Menguasai Diri dalam Kerendahan Hati (Matius 23 : 1–12)

Pdt. Stefanus Yossy Nugraha · Nov. 1, 2026

Menguasai Diri dalam Kerendahan Hati (Matius 23 : 1–12) 

Bagaimana sikap kita ketika dihormati atau dipercaya orang lain? Apakah kita tetap rendah hati, atau mulai merasa diri lebih hebat? Dalam bacaan ini, Yesus mengingatkan para pengikut-Nya supaya tidak meniru sikap ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka pandai mengajarkan firman Tuhan, tetapi tidak melakukan apa yang mereka ajarkan. Mereka ingin dihormati dan dipandang baik oleh orang lain, tetapi lupa melakukan apa yang Tuhan kehendaki.

 

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi dikenal sebagai orang-orang yang memahami hukum Taurat. Mereka juga mendapat penghormatan dari masyarakat. Namun, mereka justru senang dipuji, dihormati, dan dianggap penting. Apa yang mereka miliki seharusnya dipakai untuk melayani orang lain, tetapi malah membuat mereka merasa lebih tinggi daripada orang lain. Karena itu, Yesus mengingatkan bahwa menjadi orang besar bukan berarti harus mendapat banyak penghormatan. Menjadi besar berarti mau merendahkan diri dan melayani orang lain.

 

Bukankah kita juga kadang bersikap seperti itu? Kita ingin didengarkan, tetapi sulit mendengarkan orang lain. Kita ingin dihargai, tetapi kadang lupa menghargai orang lain. Ketika merasa lebih tahu atau lebih berpengalaman, kita bisa merasa paling benar dan sulit menerima pendapat orang lain. Karena itu, kita perlu belajar menguasai diri. Bukan hanya menahan amarah, tetapi juga menahan keinginan untuk selalu dipuji, dihormati, dan dianggap lebih baik daripada orang lain. Kita perlu menyadari bahwa apa yang kita miliki bukan untuk membuat kita sombong, melainkan untuk menjadi berkat bagi sesama.

 

Yesus berkata, “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Matius 23:12). Melalui perkataan ini, Yesus mengingatkan kita bahwa mengetahui firman Tuhan saja tidak cukup. Kita juga perlu melakukannya dalam kehidupan seharihari. Kita mungkin tidak pandai menjelaskan firman Tuhan, tetapi kita bisa belajar untuk bersikap rendah hati, berani mengakui kesalahan, mau menerima nasihat, dan menghargai orang lain. Bukankah hal-hal sederhana seperti itu juga merupakan wujud iman kita kepada Tuhan?

 

Marilah kita belajar menguasai diri dan hidup dalam kerendahan hati. Di rumah, di tempat kerja, maupun dalam pelayanan gereja, janganlah kita sibuk mencari pujian atau ingin selalu dihormati. Belajarlah mendengarkan orang lain, menerima teguran, dan melayani dengan tulus. Sebab, iman kita bukan hanya terlihat dari apa yang kita katakan, tetapi juga dari bagaimana kita bersikap dan memperlakukan orang lain. Kiranya kita tidak hanya pandai berbicara tentang firman Tuhan, tetapi juga mau melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. (Pdt. YS)  

 

Khotbah Terkait

← Back to Sermons