Menghadap Allah, Menegakkan Altar Keluarga
Bacaan I : Keluaran 33:12-23
Mazmur Tanggapan: Mazmur 9
Bacaan II: 1 Tesalonika 1:1-10
Bacaan Injil: Matius 22:15-22
Tujuan
1. Agar jemaat mengetahui pentingnya menegakkan altar keluarga melalui penyelenggaraan ibadah keluarga.
2. Agar jemaat melakukan ibadah keluarga secara konsisten.
DASAR PEMIKIRAN
Kata padanan untuk “Rumah” dalam bahasa Jawa adalah “Omah”. Orang yang menikah atau hidup berumah tangga disebut “Omah-omah”. Omah berasal dari bahasa Sansekerta “Om” yang berarti langit, dan “Mah” yang berarti tanah atau bumi. Oleh karena itu orang Jawa memahami rumah bukan sekadar bangunan fisik saja, tetapi merupakan kesatuan rohani antara langit dan bumi, antara Tuhan dengan manusia. Demikian pula dengan omah-omah, keluarga akan sejahtera hanya bila tersedia ruang bagi Tuhan untuk hadir dan berkarya di tengah keluarga. Itulah sebabnya di dalam rumah tradisional Jawa selalu disediakan satu kamar khusus untuk kehadiran yang Ilahi.
Altar keluarga adalah waktu khusus yang disediakan oleh keluarga untuk beribadah dengan berdoa, memuji Tuhan dan mendengarkan firman Tuhan. Ibadah keluarga adalah praktik pembinaan iman yang sangat penting bagi orang-orang percaya. Dalam gereja perdana orang-orang percaya berkumpul di rumah-rumah secara bergilir untuk memecah-mecah roti dan makan bersama dengan gembira (bdk. Kis.2:46). Pada masa reformasi ibadah keluarga tetap dilestarikan, sebagai contoh Martin Luther menetapkan pelaksanaan dua kali ibadah harian bagi keluarga, yaitu ibadah pagi dengan pembacaan Firman dari Perjanjian Lama dan Ibadah petang dengan pembacaan firman dari Perjanjian Baru. Tradisi ini harus diteruskan oleh gereja dari zaman ke zaman, sebagai upaya untuk membangun iman keluarga, sehingga setiap anggota keluarga memiliki fondasi iman yang kuat untuk menghadapi tantangan zaman yang semakin berat.
Sungguh sayang, sekarang ini tradisi ibadah keluarga semakin luntur, banyak keluarga Kristen yang tidak lagi melaksanakan ibadah keluarga padahal tantangan zaman yang dihadapi semakin berat. Oleh karena itu altar keluarga perlu ditegakkan kembali agar perjumpaan dengan Allah melalui ibadah keluarga menjadi sumber kekuatan iman bagi seluruh anggota keluarga.
PENJELASAN TEKS
Keluaran 33:12-23
Konteks dari perikop ini adalah permohonan Musa agar TUHAN tetap berkenan menyertai bangsa Israel setelah mereka membuat dan menyembah patung anak lembu emas. Di kemah pertemuan yang dibuat oleh Musa, Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang kepada temannya (Kel.33:11). Hal ini menunjukkan betapa dekat dan hangat perjumpaan Musa dengan Tuhan. Musa menyampaikan permohonan agar TUHAN tetap memberikan kasih karunia dan membimbing umat Israel (Kel.33:12-13). TUHAN menjawab bahwa Ia akan membimbing dan memberikan ketenteraman (Kel.33:14). Musa kemudian memohon bukti bahwa TUHAN akan tetap menyertai umat, Musa memohon agar dapat melihat kemuliaan TUHAN (Kel.33:18).
TUHAN berkenan pada permohonan Musa, tetapi ia tidak akan tahan memandang wajah TUHAN. Oleh karena itu TUHAN menyuruh Musa berdiri di atas gunung batu dan apabila kemuliaan TUHAN lewat maka TUHAN akan menempatkan Musa dalam lekuk gunung itu. TUHAN juga akan menudungi Musa dengan tangannya sampai TUHAN berjalan lewat sehingga Musa hanya akan melihat bagian belakang TUHAN (Kel.33:19-23). Dengan cara demikian Musa akan melihat kemuliaan TUHAN tetapi dirinya sendiri tidak binasa.
Persekutuan yang erat dengan TUHAN memberi kesempatan bagi Musa untuk mengalami kemuliaan TUHAN sekaligus menjadi tanda jaminan kasih karunia dan penyertaan TUHAN bagi Musa dan umat Israel. Dengan demikian mereka akan beroleh kekuatan untuk berjalan melintasi padang gurun menuju tanah terjanji.
Mazmur 9:1-20
Mazmur 9 diyakini merupakan satu kesatuan dengan Mazmur 10. Setiap bait dalam Mazmur ini diawali huruf-huruf Ibrani mulai dari huruf pertama hingga huruf terakhir. M.C. Barth membagi susunan Mazmur 9 dan 10 sebagai berikut:
● 9:2-5 (Bait 1-2): Ucapan syukur atas pertolongan yang telah dialami pemazmur.
● 9:6-9 (Bait 3-4): Puji-pujian kepada TUHAN, hakim yang adil atas semua bangsa.
● 9:10-11( Bait 5): Puji-pujian kepada TUHAN, pelindung orang-orang yang tertindas.
● 9:12-15 (Bait 6-7): Syukur atas pertolongan yang telah dialami pemazmur.
● 9: 16-17 (Bait 8): Syukur karena hukuman yang telah dijatuhkan atas bangsa-bangsa.
● 9:18-21 (Bait 9-10): Doa mohon hukuman atas bangsa-bangsa kafir.
● 10:1-11 (Bait 11-17): Doa keluhan tentang usaha orang fasik untuk menjatuhkan si miskin.
● 10:12-15 (Bait 18-19a): Doa minta tolong terhadap serangan orang fasik.
● 10:16-18 (Bait 19b-20): Puji-pujian dan syukur atas pertolongan Tuhan.
Menurut M.C. Barth, dengan mencermati susunan ini kita menemukan pola 3 tema utama, yaitu:
Pertama, Tuhan menyelamatkan si miskin dari musuh-musuhnya. Kedua, tindakan orang fasik meresahkan si miskin. Ketiga, Tuhan menghakimi segala orang dan bangsa dengan adil.
Mazmur 9 mengajar kita untuk meyakini bahwa Allah peduli, mengasihi dan berkenan menolong orang-orang yang miskin, lemah dan tertindas. Di dalam Allah kita mendapatkan keselamatan dan keadilan, oleh karena itu kita harus menaikkan puji-pujian syukur kepada-Nya.
1 Tesalonika 1:1-10
Dalam bagian pembuka surat ini rasul Paulus menulis bahwa ia dan teman-teman sepelayanannya (Silwanus dan Timotius) selalu mengucap syukur kepada Allah karena keadaan jemaat Tesalonika dan mendoakan mereka (1Tes.1:2). Dalam doa bersyukur karena melihat pekerjaan iman, usaha kasih, dan ketekunan pengharapan yang dimiliki oleh jemaat (1Tes.1:3).
Paulus meyakini bahwa jemaat adalah orang-orang yang dipilih dan dikasihi Allah sebab Injil telah disampaikan kepada mereka bukan hanya dengan kata-kata saja tetapi dengan kuasa dan Roh Kudus, dan dengan kepastian yang kokoh. Selain itu jemaat juga telah bersikap setia sekalipun mengalami penindasan yang berat sehingga mereka dapat menjadi teladan bagi orang-orang percaya lain di sekitarnya. Paulus telah mendengar kesaksian dari jemaat-jemaat lain tentang kehidupan jemaat Tesalonika yang berbalik dari berhala-berhala untuk melayani Allah dan menantikan kedatangan Tuhan Yesus.
Matius 22:15-22
Orang-orang Farisi berusaha menjebak Yesus dengan sebuah pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama orang-orang Herodian untuk bertanya kepada Yesus, apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar? Ada beberapa catatan penting di sini: Pertama, mereka mengatakan bahwa Yesus adalah orang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah, tidak takut kepada siapa pun sebab tidak mencari muka. Dengan pujian ini mereka berharap Yesus diliputi kebanggaan dan keberanian sehingga kehilangan kontrol diri kemudian memberikan jawaban yang salah. Kedua, mereka mengutus orang-orang Herodian, yaitu orang-orang yang secara politis mendukung keluarga Herodes Agung dan anaknya, Herodes Antipas, penguasa kaki tangan pemerintah Romawi.
Harapannya apabila Yesus memberikan jawaban yang melawan pemerintah Romawi maka orang-orang Herodian ini dapat menjadi saksi untuk menjatuhkan Yesus. Ketiga, pertanyaan ini jawabannya problematik sebab bila dijawab “Tidak boleh membayar pajak kepada Kaisar” seperti yang mereka harapkan, maka Yesus dapat ditangkap dengan tuduhan menghasut orang untuk makar. Sebaliknya bila dijawab ”Boleh membayar pajak kepada Kaisar” maka Yesus akan dianggap sebagai pengkhianat bangsa. Mesias kok tunduk kepada pemerintah penjajah. Apalagi orang-orang Yahudi punya alasan keagamaan untuk menolak membayar pajak kepada pemerintah asing. Bagi orang-orang Yahudi Tuhan adalah satu-satunya raja oleh karena itu membayar pajak kepada raja duniawi berarti mengakui kekuasaannya dan dengan demikian menghina Tuhan.
Yesus mengetahui kejahatan hati mereka sehingga menegur mereka. Tetapi Yesus tetap menjawab pertanyaan mereka dengan cara yang sangat bijaksana. Yesus meminta ditunjukkan mata uang yang dipergunakan untuk membayar pajak dan mereka membawa suatu dinar kepada-Nya. Pada masa itu uang logam satu dinar bergambar kaisar Tiberius pada satu sisinya. Setelah menerima uang itu Yesus bertanya kepada mereka, “Ini gambar dan tulisan siapa?” Kemudian mereka menjawab, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Yesus berkata kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”
Apa makna dari jawaban Yesus sehingga orang-orang itu menjadi heran dan pergi meninggalkan Yesus? Pertama, mereka sendiri menggunakan uang dinar bergambar Kaisar itu, padahal di mana mata uang suatu pemerintah dipergunakan berarti kekuasaan pemerintah itu diakui. Nah, apabila mereka sendiri mengakui kekuasaan Kaisar maka mereka tidak dapat memaksa Yesus untuk menolak kekuasaan Kaisar. Jadi berikan saja apa yang menjadi hak Kaisar yang sudah mereka akui. Kedua, Injil Matius ditulis antara tahun 80-90 M, pada waktu itu Bait Allah sudah dihancurkan pemerintah Romawi. Ketika Bait Allah masih ada setiap orang Yahudi wajib membayar pajak Bait Suci sejumlah setengah syikal, tetapi ketika Bait Allah sudah tidak ada lagi pemerintah Romawi menuntut agar pajak itu dibayarkan untuk kuil Jupiter di Roma. Oleh karena itu bagi para pembaca Injil yang hidup pada tahun 80-90 M jawaban, “Berikanlah kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” menggugah mereka untuk tidak melupakan kewajiban kepada Allah yang berdaulat atas kehidupan mereka.
Orang-orang Farisi mencoba menjebak Yesus dengan mempertentangkan kewajiban kepada negara dengan kewajiban kepada Allah, tetapi Yesus tidak mengikuti paradigma berpikir yang demikian sebab bagi Yesus dua kewajiban itu dapat dilaksanakan bersama-sama dengan menjaga keseimbangan keduanya. Pelaksanaan kewajiban kepada Kaisar tidak boleh mengganggu atau meniadakan kewajiban kepada Allah.
PESAN YANG MAU DISAMPAIKAN
Setiap keluarga Kristen perlu menegakkan altar keluarga dengan menyelenggarakan ibadah keluarga sebab melalui perjumpaan dengan Allah di dalam ibadah keluarga (1) keluarga dapat menegaskan penyertaan Allah di dalam perjalanan hidup, (2) keluarga dapat bertumbuh dalam iman pengharapan dan kasih, dan (3) keluarga terdorong untuk mengingat serta memprioritaskan kewajiban-kewajiban kita kepada Allah.
KHOTBAH JANGKEP
Menghadap Allah, Menegakkan Altar Keluarga
“Rumah” dalam bahasa Jawa disebut “Omah”. Orang yang menikah atau hidup berumah tangga disebut “Omah-Omah”. “Omah” berasal dari bahasa Sansekerta “Om” yang berarti langit, dan “Mah” yang berarti tanah atau bumi. Orang Jawa memahami rumah bukan sekedar bangunan fisik saja, tetapi merupakan kesatuan rohani antara langit dan bumi, antara Tuhan dengan manusia. Demikian pula dengan kehidupan berkeluarga. Keluarga akan selamat dan sejahtera apabila Tuhan hadir dan berkarya di tengah-tengah mereka. Pandangan orang Jawa ini sejalan dengan pemahaman orang percaya mengenai keluarga sebagai ecclesia domestica atau keluarga sebagai unit terkecil gereja. Sebagai gereja kecil keluarga menghayati kehadiran dan karya Tuhan melalui ibadah keluarga.
Praktik ibadah keluarga telah dilakukan oleh orang-orang percaya di sepanjang sejarah. Pada zaman gereja perdana, orang-orang percaya menyelenggarakan ibadah keluarga dengan memecah-mecah roti dan makan bersama di rumah-rumah secara bergiliran (Kis.2:46). Pada zaman reformasi, Martin Luther menetapkan dua waktu ibadah harian keluarga, yakni ibadah pagi dengan membaca firman dari Perjanjian Baru dan ibadah petang dengan membaca Firman dari Perjanjian Lama. Sayangnya justru di tengah tantangan zaman yang semakin berat sekarang ini banyak keluarga yang meninggalkan tradisi melakukan ibadah keluarga karena berbagai alasan. Padahal ibadah keluarga dapat menjadi sarana untuk membangun iman setiap anggota keluarga sehingga mereka semakin bertumbuh dalam iman dan siap menghadapi tantangan zaman yang kian sulit.
Pada ibadah Minggu ke III di bulan keluarga ini kita diajak untuk menggumuli tema: Menghadap Tuhan, Menegakkan Altar Keluarga. Kita diajak untuk berjumpa dengan Allah di tengah keluarga dengan kembali melaksanakan ibadah keluarga. Mengapa kita harus kembali menegakkan altar keluarga? Bacaan Firman Tuhan pada minggu ini mengajarkan kepada kita tiga alasan penting mengapa kita harus menegakkan altar keluarga, yaitu:
(1) Persekutuan dengan Allah melalui ibadah keluarga menegaskan penyertaan Allah di dalam Kehidupan keluarga.
Bacaan pertama dari kitab Keluaran 33:12-23 mengisahkan bahwa setelah umat Israel melakukan perbuatan dosa dengan menyembah berhala patung anak lembu emas Musa menghadap Tuhan untuk memohon pengampunan dan kasih penyertaan Tuhan. Kitab Keluaran mengisahkan perjumpaan Tuhan dengan Musa itu sebagai perjumpaan yang sangat akrab dan mendalam, “Dan Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya” (Kel.33:1a). Tuhan berkenan menjadi sahabat sehingga perjumpaan dengan Musa menjadi perjumpaan yang hangat dan menggembirakan. Oleh karena itu dapat menyampaikan permohonannya dengan tenang.
Musa mengetahui sepenuhnya bahwa tanpa penyertaan Tuhan perjalanannya bersama bangsa Israel tidak akan berhasil, oleh karena itu Musa memohon agar Tuhan memberitahukan jalan-Nya sehingga ia dapat mengenal Tuhan. “Sekarang, sekiranya aku mendapat kemurahan hati-Mu, beritahukanlah kepadaku jalan-Mu, sehingga aku mengenal Engkau..” (Kel. 33:13a). Kecuali itu Musa juga memohon agar Tuhan berkenan membimbingnya. “Jika bukan Engkau sendiri yang berjalan beserta kami, jangan bawa kami pergi dari sini” (Kel.33:15). Tuhan mengabulkan permohonan Musa bahkan Tuhan juga mengizinkan Musa untuk menyaksikan kemuliaan Tuhan sebagai bukti kasih karunia yang Tuhan berikan kepadanya.
Menegakkan altar keluarga melalui ibadah keluarga menjadi sarana bagi kita untuk mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Dalam ibadah keluarga kita bernyanyi, berdoa dan membaca firman Tuhan. Semua ini menjadi sarana untuk menghayati persekutuan kita dengan Tuhan yang menyambut kita dengan hangat sebagai sahabat. Tuhan berkenan mendengarkan berbagai keluh kesah yang kita sampaikan melalui doa-doa dan Tuhan juga berkenan berbicara kepada kita melalui pewartaan firman yang menolong kita untuk semakin mengenal Tuhan dan jalan-Nya. Dengan demikian menegakkan altar keluarga melalui ibadah keluarga dapat mengukuhkan keyakinan kita pada penyertaan Tuhan yang tiada henti di dalam hidup kita.
(2) Persekutuan dengan Allah melalui ibadah keluarga memberi ruang yang kondusif bagi keluarga untuk bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih.
Dalam surat kepada jemaat Tesalonika rasul Paulus menyampaikan kepada jemaat bahwa bersama-sama dengan rekan sepelayanan yang lain rasul Paulus senantiasa bersyukur kepada Tuhan karena mereka dan mendoakan jemaat Tesalonika (1 Tes.1:3). Doa adalah tindakan penting di dalam pelayanan oleh karena itu di antara para pelayan Tuhan dan warga jemaat harus terus saling mendoakan.
Dalam persekutuan gereja yang saling mendoakan ini Paulus memuji jemaat Tesalonika karena pekerjaan iman, usaha kasih dan ketekunan pengharapan kepada Tuhan Yesus yang tumbuh di antara mereka (1Tes.1:3). Sebagai hasilnya sekalipun mereka menghadapi penderitaan yang berat jemaat Tesalonika tetap bertahan dalam iman sehingga dapat menjadi teladan bagi semua orang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya (1Tes 1:6-7).
Seperti halnya
orang-orang percaya yang bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih di dalam
persekutuan dengan Allah di dalam gereja, demikianlah setiap anggota keluarga
juga dapat bertumbuh dalam iman pengharapan dan kasih di dalam keluarga yang
menjadi ecclesia domestica. Keluarga yang
menghadirkan praktik hidup bergereja menjadi ruang yang kondusif bagi
setiap anggotanya untuk bertumbuh secara rohani.
(3) Persekutuan dengan Allah melalui ibadah keluarga menggugah keluarga untuk memprioritaskan kewajiban-kewajiban kita kepada Allah.
Dalam Injil Matius 22:15-22 orang-orang Farisi menyuruh murid-murid mereka bersama orang-orang Herodian untuk menjebak Tuhan Yesus dengan pertanyaan, “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar atau tidak?” (Mat.22:17). Pertanyaan ini sungguh merepotkan sebab jika dijawab tidak boleh maka Tuhan Yesus akan dituduh telah menghasut orang untuk melakukan makar dan di situ ada orang-orang Herodian yang menjadi pengikut setia Herodes, mereka akan dengan senang hati melaporkan Tuhan Yesus kepada pemerintah Romawi. Tetapi apabila dijawab boleh maka Tuhan Yesus akan dianggap sebagai pengkhianat bangsa sebab menjadi pendukung pemerintah Romawi. Apalagi orang-orang Yahudi memiliki keyakinan bahwa Tuhan adalah satu-satunya raja mereka (Teokrasi) sehingga mengakui pemerintahan asing dianggap sebagai menista Tuhan.
Tuhan Yesus meminta agar ditunjukkan uang yang dipergunakan untuk membayar pajak kemudian bertanya, “Ini gambar dan tulisan siapa?” Mereka menjawab, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Pada masa itu uang logam satu dinar bergambar kaisar Tiberius pada satu sisinya. Setelah mendengar jawaban mereka Tuhan Yesus berkata,” Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Dengan jawaban ini Tuhan Yesus hendak mengatakan, “Kalian saja mengakui kekuasaan Kaisar, mengapa kalian memaksa Aku untuk menolak Kaisar?” Di masa itu terdapat pemahaman di mana mata uang kaisar dipergunakan itu berarti kekuasaan Kaisar diakui.
Di sisi lain melalui jawaban ini Tuhan Yesus juga hendak mengatakan bahwa setiap orang juga harus menempatkan kewajiban kepada Allah sebagai kewajiban yang sangat penting. Injil Matius ditulis kira-kira tahun 80-90 Masehi, pada waktu itu Bait Allah sudah tidak ada. Sebelumnya setiap orang Yahudi harus membayar pajak Bait Allah sebesar setengah Syikal untuk membiayai keperluan Bait Allah. Karena Bait Allah sudah tidak ada maka uang itu harus disetor ke kuil Jupiter di kota Roma. Bagi pembaca Injil Matius ucapan Tuhan Yesus, “Berikanlah kepada Allah apa yang menjadi hak Allah” merupakan peringatan keras bagi mereka untuk menempatkan kewajiban kepada Allah dalam tempat yang penting. Ketaatan kepada pemerintah dunia tidak boleh meniadakan ketaatan kepada pemerintahan Allah.
Ibadah keluarga menjadi “mata uang” Kerajaan Allah yang menunjukkan bahwa pemerintahan Allah diakui di dalam keluarga sehingga setiap anggota keluarga siap menjalankan kewajiban-kewajibannya kepada Allah. Kesibukan-kesibukan dunia tidak boleh menjadi penghalang bagi keluarga untuk berjumpa dengan Allah melalui ibadah keluarga.
Menegakkan altar keluarga melalui ibadah keluarga sangat penting untuk kita lakukan sebab melalui perjumpaan dengan Allah di dalam ibadah keluarga kita dapat meneguhkan penyertaan Allah di dalam perjalanan hidup kita, memberi ruang yang kondusif bagi kita untuk bertumbuh dalam iman pengharapan dan kasih, dan menggugah kita untuk memprioritaskan kewajiban-kewajiban kita kepada Allah.
Namun demikian menegakkan altar keluarga bukanlah perkara yang mudah, sebab itu diperlukan pemahaman bersama mengenai pentingnya ibadah keluarga dan komitmen yang kuat di antara seluruh anggota keluarga. Marilah kita memohon kekuatan dari Tuhan agar dapat menegakkan altar keluarga kita masing-masing. Amin.
[Purnomo K]