Menolak Berhala, Memilih Setia
Menolak Berhala, Memilih Setia
Bacaan I : Keluaran 32:1-14
Mazmur Tanggapan: Mazmur 106:1-6, 19-23
Bacaan II: Filipi 4:1-9
Bacaan Injil: Matius 22:1-14
DASAR PEMIKIRAN
Pada minggu kedua Bulan Keluarga 2026 ini umat diundang menggumulkan tema “Menolak Berhala, Memilih Setia”. Dalam konteks masa kini, berhala tidak selalu berbentuk patung atau simbol fisik seperti pada zaman dahulu. Berhala bisa hadir dalam berbagai bentuk yang lebih halus, seperti kecintaan berlebihan terhadap uang, karier, teknologi, popularitas, atau bahkan diri sendiri. Jika tidak peka dan tidak berhikmat, hal-hal tersebut dapat mengambil posisi utama dalam hati manusia dan secara tidak sadar menggantikan Tuhan sebagai pusat kehidupan.
Menolak berhala berarti tindakan keluarga bersikap tegas membuang segala bentuk keinginan dan tindakan yang menjadikan keluarga maupun anggotanya mengutamakan hal-hal menyenangkan diri dan tidak selaras dengan kehendak Tuhan. Penolakan pada berhala bersifat radikal, tidak bisa setengah-setengah. Penolakan yang setengah-setengah mengaburkan keyakinan. Akibatnya, manusia berwajah ganda. Akibat setengah-setengah adalah: di satu pihak seseorang mengatakan percaya pada Allah, di pihak lain meninggalkan-Nya bila hidup dalam Allah dirasa berat, penuh tantangan, dan tidak menguntungkan.
Memilih setia kepada Tuhan artinya tetap percaya dan taat pada Allah dalam segala situasi, baik dalam keadaan suka maupun duka. Kesetiaan pada Tuhan yang bersifat vertikal akan memperkuat hubungan horizontal, yaitu hubungan anggota keluarga, antar sesama manusia. Kesetiaan bukan sekadar bertahan dari aneka godaan, melainkan pilihan aktif untuk tetap berjalan sesuai dengan tujuan sembari melakukan aneka perubahan menuju ke arah yang lebih baik.
Keluarga yang menolak berhala dan memilih setia akan menjadi terang dan teladan bagi lingkungan sekitarnya, serta mencerminkan kasih dan kebenaran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga melalui ibadah ini, setiap keluarga dapat membagikan pengalaman menolak berhala, memilih setia.
PENJELASAN TEKS
Keluaran 32:1-14
Kitab Keluaran 32:1–14 menceritakan peristiwa ketika bangsa Israel membuat anak lembu emas saat Musa masih berada di Gunung Sinai. Ketika Musa tidak kunjung turun, bangsa itu menjadi tidak sabar dan meminta Harun supaya membuat allah yang dapat mereka lihat dan sembah. Harun berinisiatif mengumpulkan perhiasan emas dari mereka dan membentuknya sehingga menyerupai patung anak lembu. Selanjutnya bangsa Israel mempersembahkan kurban dan bersukaria di hadapan patung itu, melanggar perintah Allah yang melarang penyembahan berhala.
Mengapa mereka membuat patung lembu emas sebagai sesembahan? Rupanya mereka tergoda untuk kembali ke Mesir. Di sana mereka melihat pemujaan pada dewa-dewa yang digambarkan dengan lembu. Pembuatan patung sebagai sesembahan itu dilakukan karena mungkin saja orang Israel memahami bahwa Tuhan sama sekali tidak berada dalam kekuasaan manusia, sedangkan berhala buatan tangan manusia sebenarnya di bawah kuasa manusia. Berhala adalah ilah yang bisa diatur menurut kehendak manusia, sehingga manusia merasa nyaman bersama ilah tersebut.
Allah melihat perbuatan mereka dan menjadi murka karena mereka telah cepat berpaling dari jalan yang diperintahkan-Nya. Allah menyebut mereka sebagai bangsa yang tegar tengkuk dan
menyatakan keinginan untuk menghukum mereka. Namun, Musa memohon untuk melunakkan hati Tuhan agar tidak menumpahkan murka-Nya. Ia membawa kembali janji Tuhan kepada Abraham, Ishak, dan Israel, serta menyoroti bagaimana bangsa lain akan memandang tindakan Tuhan jika Ia membinasakan umat-Nya sendiri.
Permohonan Musa menunjukkan peran penting seorang pemimpin sebagai perantara antara Allah dan umat. Musa tidak hanya memimpin secara lahiriah, tetapi juga secara rohani, dengan memohon belas kasihan Tuhan bagi umat yang berdosa. Akhirnya, Tuhan menyesal atas malapetaka yang direncanakan-Nya terhadap umat Israel.
Bagian ini mengajarkan tentang bahaya ketidaksabaran, kecenderungan manusia untuk menyimpang, serta pentingnya pertobatan dan perantaraan. Selain itu, terlihat pula kasih dan kesetiaan Tuhan yang tetap memberi kesempatan kepada umat-Nya meskipun mereka telah berdosa.
Mazmur 106:1-6, 19-23
Mazmur 106:1-6, 19-23 merupakan bagian dari pujian sekaligus pengakuan dosa umat Israel. Ayat 1-6 dimulai dengan seruan untuk bersyukur kepada Tuhan karena kasih setia-Nya yang kekal. Pemazmur mengingatkan bahwa tidak ada seorang pun yang mampu sepenuhnya menceritakan segala perbuatan ajaib Tuhan. Oleh karena itu, orang yang hidup benar dan melakukan keadilan disebut berbahagia. Dalam bagian ini juga terlihat kerinduan pemazmur agar Tuhan mengingat dirinya bersama umat-Nya dan memberikan keselamatan.
Namun, pujian itu segera diikuti dengan pengakuan dosa. Pemazmur dengan jujur mengakui bahwa mereka telah berdosa seperti nenek moyang mereka. Mereka melakukan kesalahan, berbuat jahat, dan tidak setia kepada Tuhan. Ini menunjukkan kesadaran bahwa dosa bukan hanya kesalahan individu, tetapi juga bagian dari sejarah umat yang terus berulang.
Ayat 19-23 mengingatkan peristiwa ketika bangsa Israel membuat anak lembu emas di Horeb. Mereka menukar kemuliaan Tuhan dengan gambaran patung, suatu tindakan penyembahan berhala yang sangat serius. Mereka melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka dari Mesir dan melakukan perbuatan-perbuatan besar. Akibatnya, Tuhan berniat membinasakan mereka.
Namun, Musa tampil sebagai perantara. Ia berdiri di hadapan Tuhan untuk memohon belas kasihan, sehingga murka Tuhan tidak jadi menghancurkan bangsa itu. Bagian ini menegaskan pentingnya peran seorang perantara serta besarnya kasih dan pengampunan Tuhan, meskipun umat-Nya sering kali tidak setia.
Filipi 4:1-9
Filipi 4:1–9 merupakan bagian penutup dari surat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi yang berisi nasihat praktis untuk kehidupan iman sehari-hari. Paulus dimulai dengan dorongan agar jemaat tetap berdiri teguh di dalam Tuhan (ayat 1). Ini menunjukkan pentingnya ketekunan dan kesetiaan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Pada ayat 2–3, Paulus menyinggung konflik antara Euodia dan Sintikhe, meminta mereka untuk sehati sepikir dalam Tuhan. Hal ini menekankan pentingnya persatuan dan rekonsiliasi dalam komunitas Kristen. Paulus juga mengajak jemaat lain untuk membantu mereka, menunjukkan bahwa menjaga keharmonisan adalah tanggung jawab bersama.
Ayat 4–7 berisi ajakan untuk selalu bersukacita dalam Tuhan. Sukacita di sini tidak bergantung pada keadaan, melainkan pada hubungan dengan Allah. Paulus juga mengingatkan agar jemaat tidak khawatir, tetapi membawa segala hal dalam doa dan ucapan syukur. Hasilnya adalah damai sejahtera Allah yang melampaui akal manusia, yang akan menjaga hati dan pikiran.
Dalam ayat 8–9, Paulus mengarahkan fokus pikiran kepada hal-hal yang benar, mulia, adil, suci, manis, dan terpuji. Ia menekankan pentingnya menjaga pikiran karena pikiran memengaruhi tindakan. Paulus juga mendorong jemaat untuk mempraktikkan apa yang telah mereka pelajari dan terima darinya.
Secara keseluruhan, Filipi 4:1–9 mengajarkan tentang keteguhan iman, pentingnya persatuan, hidup dalam sukacita, mengandalkan doa, serta menjaga pikiran dan tindakan sesuai kehendak Allah.
Injil Matius 22:1–14 berisi perumpamaan tentang perjamuan kawin yang menggambarkan Kerajaan Surga. Dalam kisah ini, seorang raja mengadakan pesta pernikahan untuk anaknya dan mengundang banyak orang. Namun, mereka yang diundang justru menolak datang, bahkan ada yang mengabaikan undangan itu karena kesibukan mereka, sementara yang lain bertindak kasar terhadap para utusan raja yang mengundangnya. Hal ini melambangkan penolakan umat terhadap panggilan Allah.
Raja kemudian murka dan menghukum mereka yang menolak undangan tersebut. Setelah itu, ia mengutus hamba-hambanya untuk mengundang siapa saja yang ditemui di jalan, baik orang baik maupun jahat. Ini menunjukkan bahwa keselamatan terbuka bagi semua orang tanpa memandang latar belakang, selama mereka merespons undangan Allah.
Namun, perumpamaan ini tidak berhenti di situ. Ketika raja melihat para tamu, ia menemukan seorang yang tidak mengenakan pakaian pesta. Orang itu kemudian diusir. Bagian ini menegaskan bahwa menerima undangan saja tidak cukup; diperlukan kesiapan dan perubahan hidup yang mencerminkan kehendak Allah. Pakaian pesta melambangkan hidup yang benar dan layak di hadapan-Nya.
Kesimpulan utama dari perumpamaan ini adalah bahwa banyak orang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Artinya, meskipun undangan keselamatan diberikan kepada semua orang, hanya mereka yang sungguh-sungguh merespons dengan iman dan hidup yang sesuai yang akan menjadi bagian dari Kerajaan Surga. Perumpamaan ini mengajak setiap orang untuk tidak hanya mendengar panggilan Allah, tetapi juga menanggapinya dengan kesungguhan dan ketaatan.
BERITA YANG MAU DISAMPAIKAN
1. Keluarga diingatkan bahwa Tuhan adalah sumber kebenaran dan kehidupan. Berhala hanyalah buatan manusia yang tidak memiliki kuasa. Hanya Tuhan yang hidup, yang memberi berkat, perlindungan, dan arah hidup yang benar bagi keluarga.
2. Keluarga diingatkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan membawa damai dan berkat. Keluarga yang berpegang pada Tuhan cenderung hidup dalam nilai kasih, kejujuran, dan pengampunan. Hal ini menciptakan hubungan yang harmonis dan penuh damai dalam rumah tangga.
3. Keluarga diingatkan supaya mampu menghindari kesesatan dan ketergantungan yang salah. Menyembah berhala dapat membuat seseorang bergantung pada hal-hal yang tidak nyata dan menjauh dari kebenaran. Dengan mendengar dan merespons panggilan Allah dan setia kepada Tuhan, keluarga tetap berada di jalan yang benar dan tidak mudah disesatkan.
KHOTBAH JANGKEP
Saudara-saudari yang terkasih, hari ini kita merenungkan satu tema yang sangat relevan bagi kehidupan keluarga kita: “Menolak Berhala dan Memilih Setia Kepada Tuhan”. Firman Tuhan yang kita baca menunjukkan bahwa sejak dahulu hingga sekarang, tantangan terbesar umat Tuhan bukan hanya penderitaan atau kekurangan, melainkan hati yang mudah berpaling atau hati yang tidak setia.
Dalam bacaan pertama, kita melihat kisah bangsa Israel di padang gurun. Ketika Musa naik ke gunung dan tampak “lama” tidak kembali, bangsa itu menjadi gelisah. Mereka lalu meminta Harun untuk membuat allah lain yang dapat mereka lihat. Maka dibuatlah anak lembu emas, dan mereka berkata, “Inilah Allahmu.” Betapa cepatnya hati mereka berpaling! Mereka baru saja mengalami mukjizat besar dan dibebaskan dari Mesir, tetapi dalam waktu singkat mereka melupakan kebaikan Tuhan.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa berhala bukan hanya soal patung atau benda fisik. Berhala adalah segala sesuatu yang kita utamakan lebih dari Tuhan. Dalam kehidupan keluarga masa kini, berhala bisa berbentuk uang, pekerjaan, kesuksesan, kenyamanan, bahkan gadget atau hiburan. Ketika hal-hal itu menjadi pusat hidup kita, menggantikan Tuhan, maka tanpa sadar kita sedang membuat “anak lembu emas” versi kita sendiri.
Mazmur 106 memperkuat hal ini dengan pengakuan jujur umat, “Kami telah berdosa seperti nenek moyang kami.” Mereka mengakui bahwa mereka lupa akan Tuhan yang telah menyelamatkan mereka. Namun, Mazmur ini juga menunjukkan sisi lain dari Tuhan, Dia adalah Allah yang penuh kasih
setia. Bahkan ketika umat-Nya jatuh dalam penyembahan berhala, Tuhan tetap menunjukkan belas kasihan.
Saudara-saudari yang terkasih, ini kabar baik bagi kita. Mungkin dalam perjalanan hidup, kita juga pernah lebih mengandalkan hal lain daripada Tuhan. Mungkin kita terlalu sibuk hingga lupa berdoa bersama keluarga. Mungkin kita lebih percaya pada kekuatan sendiri daripada penyertaan Tuhan. Namun, Tuhan tidak meninggalkan kita. Dia selalu membuka jalan untuk kita kembali.
Dalam surat kepada jemaat Filipi, kita diajak untuk hidup dengan cara yang berbeda. Rasul Paulus menasihatkan agar kita tetap berdiri teguh dalam Tuhan. Ia berkata, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan.” Ini menarik, di tengah dunia yang penuh kekhawatiran, kita diajak untuk hidup dalam sukacita dan damai sejahtera.
Paulus juga memberikan langkah konkret: jangan kuatir, tetapi berdoalah. Isi pikiran kita dengan hal-hal yang benar, mulia, adil, suci, manis, dan sedap didengar. Ini adalah cara praktis untuk menolak “berhala modern.” Ketika pikiran kita dipenuhi oleh nilai-nilai Tuhan, kita tidak mudah tergoda untuk menggantikan Tuhan dengan hal lain.
Dalam konteks keluarga, ini berarti kita perlu membangun kebiasaan rohani bersama. Misalnya, menyediakan waktu untuk doa keluarga, membaca firman Tuhan bersama, dan saling menguatkan dalam iman. Kesetiaan kepada Tuhan tidak terjadi secara otomatis; itu adalah pilihan yang harus kita latih setiap hari.
Bacaan Injil Matius memberikan gambaran yang lebih tegas melalui perumpamaan tentang perjamuan kawin. Banyak orang diundang, tetapi mereka menolak undangan itu dengan berbagai alasan. Ada yang sibuk dengan ladang, ada yang dengan usahanya. Bahkan ada yang memperlakukan utusan raja dengan kasar.
Perumpamaan ini menunjukkan bahwa sering kali kita menolak Tuhan bukan dengan cara yang terang-terangan, tetapi dengan kesibukan dan prioritas yang salah. Kita terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga tidak punya waktu untuk Tuhan. Kita mungkin tidak menyembah patung, tetapi kita “menyembah” kesibukan kita.
Namun, perumpamaan itu juga menunjukkan bahwa Tuhan tetap mengundang siapa saja. Undangan itu terbuka bagi semua orang. Tetapi ada satu hal penting: kita harus datang dengan pakaian yang pantas. Ini melambangkan hidup yang diubahkan dan hidup yang mencerminkan kesetiaan kepada Tuhan.
Saudara-saudari yang terkasih, memilih setia berarti kita merespons undangan Tuhan dengan sungguh-sungguh. Kita tidak hanya datang, tetapi juga hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Kesetiaan itu terlihat dalam keputusan-keputusan kecil setiap hari: memilih jujur daripada curang, memilih mengampuni daripada menyimpan dendam, memilih berdoa daripada hanya mengandalkan diri sendiri.
Dalam kehidupan keluarga, kesetiaan kepada Tuhan juga berarti saling mengingatkan. Orang tua menjadi teladan bagi anak-anak. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika dalam keluarga Tuhan menjadi prioritas, maka anak-anak akan belajar bahwa Tuhan adalah pusat kehidupan.
Sebaliknya, jika keluarga lebih mementingkan hal-hal duniawi, maka tanpa sadar kita sedang mengajarkan bahwa Tuhan bukan yang utama. Karena itu, mari kita bertanya: apa yang menjadi pusat dalam keluarga kita? Apakah Tuhan benar-benar menjadi yang utama?
Hari ini, Tuhan mengajak kita untuk kembali. Seperti Musa yang memohonkan pengampunan bagi bangsa Israel, Tuhan juga membuka pintu pengampunan bagi kita. Dia tidak mencari kesempurnaan, tetapi hati yang mau kembali dan setia. Mari kita belajar dari kesalahan bangsa Israel, dari pengakuan dalam Mazmur, dari nasihat Paulus, dan dari perumpamaan Yesus. Kita dipanggil untuk menolak segala bentuk berhala dan memilih setia kepada Tuhan. Kiranya keluarga kita menjadi keluarga yang setia, bukan karena kita sempurna, tetapi karena kita terus memilih Tuhan setiap hari. Dalam setiap keputusan, dalam setiap tantangan, kita berkata, “Tuhan, Engkaulah yang terutama.” Amin.
[BTSN]