Kasih Untuk Semua

Pdt. Marya Sri Hartati (GKJ Joglo), Kotbah Jangkep · Sept. 20, 2026

DASAR PEMIKIRAN

 

Banyak teori tentang konsep keadilan. Secara sederhana, keadilan dapat dibedakan menjadi dua jenis. Pertama, keadilan distributif, yaitu setiap pihak menerima bagian yang sama rata. Kedua, keadilan proporsional, yaitu setiap orang menerima bagian sesuai dengan proporsinya.

 

Tuhan memiliki ukuran keadilan yang berbeda, yang didasarkan pada kemurahan hati-Nya. Tuhan memiliki kewenangan untuk mencurahkan kasih-Nya kepada semua orang tanpa terkecuali, berdasarkan ukuran-Nya, bukan ukuran manusia. Karena itu, dalam pandangan manusia, keputusan Tuhan seringkali tidak dapat menyenangkan semua pihak.

 

Sebagai orang percaya, dalam menjalani hidup sehari-hari bersama orang lain, kita perlu memiliki pedoman sikap yang benar. Bagi kita, pedoman tersebut adalah ajaran dalam Alkitab.

KETERANGAN BACAAN

 

Yunus 3:10-4:11

Nabi Yunus berkarya kira-kira selama atau setelah masa pembuangan di Babel (597-539 SM). Tuhan mengutus Yunus untuk pergi ke Niniwe mewartakan kabar penghukuman kepada penduduk di sana, sebab penduduknya banyak melakukan kejahatan (Yun. 1:2). Niniwe adalah ibu kota Asyur, musuh yang sangat dibenci oleh Israel. Kebencian itu terjadi karena Asyur menjadi kekuatan yang besar. Kerajaan ini banyak menaklukkan bangsa-bangsa, kemudian memisahkan keluarga-keluarga untuk dikirim ke daerah yang berbeda-beda. Kebencian pada Niniwe rupanya juga ada dalam diri Yunus, sehingga ia mengebu-gebu mewartakan kabar penghukuman dari Allah.

 

Rupanya setelah Yunus menyerukan kabar penghukuman, penduduk Niniwe menyesal. Mereka mengumumkan puasa, baik orang dewasa maupun anak-anak. Mereka juga mengenakan kain kabung. Bahkan, ketika raja mendengar kabar itu, ia turun dari singgasana, menanggalkan jubahnya, menggenakan kain kabung dan duduk di abu. Kain kabung adalah kain karung kasar berwarna hitam, terbuat dari bulu kambing atau unta. Tradisi pada masa itu, untuk menunjukkan rasa sesal atas dosanya, orang menggenakan kain kabung dan duduk di atas debu. Raja beserta para pembesar lainnya juga mengeluarkan suatu perintah agar dilakukan puasa dalam skala nasional. Manusia dan ternak, lembu dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan minum air. Manusia dan ternak haruslah berselubung kain kabung, serta berseru sekuat-kuatnya kepada Allah. Semua orang diperintahkan untuk berbalik dari tingkah laku mereka yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya (Yun. 3:5-8).

 

Allah melihat kesungguhan hati mereka untuk bertobat dan mengubah cara hidup mereka, sehingga Ia membatalkan rencana penghukuman itu. Hal itu membuat Yunus kesal dan marah (Yun. 4:1). Namun, Tuhan menegurnya dengan pertanyaan retoris, "Patutkah engkau marah?" (TB2-Yun. 4:4)). Tuhan mengajarkan kepada Yunus bagaimana mengasihi dengan menumbuhkan pohon jarak yang menaungi kepalanya. Yunus terhibur oleh pohon jarak itu. Namun, keesokan harinya Tuhan membuat mati pohon jarak itu, sehingga Yunus sedih dan ingin mati (Yun.4:8). Tetapi sekali lagi, Tuhan menegurnya dengan pertanyaan retoris, “Patutkah engkau marah?” (TB2-Yun.4:9). Jika Yunus bersedih untuk pohon jarak yang tidak ia tanam dan tumbuhkan, terlebih Tuhan sayang kepada Niniwe dengan penduduknya sebanyak 120.000 jiwa. Mereka diciptakan dan dipelihara oleh Allah. Tentu, Allah mengasihi mereka. Yunus tidak perlu marah, kesal, atau iri hati ketika Allah mengasihi penduduk Niniwe yang dalam pandangannya jahat. Sebab, Allah memiliki kebebasan untuk mengasihi siapa saja.

 

Mazmur 145:1-7

Mazmur 145 adalah mazmur yang mengungkapkan syukur dan kekaguman Pemazmur kepada Allah. Berdasarkan keterangan pada ayat 1, mazmur ini disebut berasal dari Daud. Pemazmur memuji pemeliharaan Allah yang murah hati kepada umat-Nya. Ia meninggikan Allah sebagai Raja yang besar (ayat 1–3). Keturunan demi keturunan akan memegahkan pekerjaan Tuhan dan memberitakan keperkasaan-Nya (ayat 4–7).

 

Filipi 1:21-30

Surat Filipi ditulis oleh Paulus ketika ia berada di dalam penjara. Ia menulis surat ini sebagai respons atas pemberian dan kabar yang ia terima dari jemaat Filipi melalui Epafroditus (4:18). Paulus memang memiliki kedekatan hubungan dengan jemaat ini. Oleh karena itu, ketika Paulus menderita di dalam penjara, saudara-saudara di Filipi juga merasakan penderitaan itu. Untuk itulah Paulus menuliskan surat ini, selain untuk mengucapkan terima kasih, ia juga memberikan penghiburan kepada jemaat ini.

 

Di awal suratnya, Paulus mengatakan bahwa, “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Namun, jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah” – TB2 (1:21–22). Tampaknya Paulus menghadapi perlawanan yang cukup sengit, sehingga keselamatan nyawanyaterancam. Namun, hal tersebut tidak membuatnya gentar. Hidupnya sepenuhnya bagi Kristus, karena itu jika ia harus mati, ia mati bagi Kristus, karena mewartakan Injil Kristus. Baginya, mati adalah keuntungan, karena membuatnya dapat tinggal bersama dengan Bapa di surga. Jika ia hidup, hidupnya haruslah memberi buah, meski jalan yang dilaluinya tidaklah mudah.

 

Matius 20:1-16

Pada bagian ini, Yesus sedang berbicara tentang Kerajaan Surga. Ia mengumpamakan Kerajaan Surga seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar mencari pekerja untuk kebunnya (ayat 1). Ia dan para pekerja sepakat bahwa mereka akan mendapatkan upah satu dinar sehari (ayat 2).

 

Pemilik kebun keluar lagi kira-kira pukul 9 pagi, 12 siang, 3 sore, dan 5 petang. Semua orang yang tampak menganggur ia undang untuk bekerja di kebunnya. Pada malam hari, pemilik kebun membagikan upah kepada semua pekerja, masing-masing menerima satu dinar sesuai kesepakatan, sekalipun mereka memulai bekerja pada waktu yang berbeda.

 

Melalui perumpamaan ini, kita dapat menangkap tiga hal penting yang ditekankan:

1.       Kemurahan hati Allah tidak berdasarkan pada apa yang dilakukan oleh seseorang. Tuhan memberikan nafkah yang cukup untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari umat-Nya, terlepas dari berapa lama seseorang bekerja.

2.       Keluhan para pekerja yang bekerja paling awal dan jawaban pemilik kebun, menunjukkan bahwa ukuran keadilan manusia dan Tuhan berbeda. Tuhan tidak melanggar kesepakatan, karena Ia membayar upah sesuai kesepakatan, yaitu satu dinar sehari. "Upah" atau berkat yang kita terima didasarkan pada kemurahan hati dan keadilan Allah, bukan atas inisiatif atau pertimbangan manusia. Ucapan pemilik kebun anggur, "Tidakkah aku boleh mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?" (ayat 15a) menyiratkan bahwa Allah memiliki hak prerogatif untuk memberkati umat-Nya.

3.       Orang yang percaya pada kemurahan Allah tidak semestinya iri hati ketika melihat sesamanya menerima kemurahan Allah. Sebab, keadilan Allah atau kemurahan Allah berbeda dengan kemurahan menurut ukuran manusia. Kita tidak perlu bersungut-sungut atau kesal ketika orang lain menerima berkat dari Tuhan.

POKOK DAN ARAH PEWARTAAN

Tuhan mengasihi semua orang. Ia memelihara kehidupan semua orang. Ukuran kasih Allah kepada manusia tidak berdasarkan apa yang diperbuat, melainkan berdasarkan kemurahan kasih-Nya. Allah memiliki hak prerogatif menggunakan kewenangan-Nya tersebut untuk mengasihi umat berdasarkan hikmat-Nya.

 

Oleh karena itu, sikap orang percaya semestinya adalah:

1.       Percaya pada kemurahan hati Allah kepada semua orang, sesuai dengan ukuran hikmat-Nya, bukan ukuran manusia.

2.       Tidak bersungut-sungut, kesal/marah, atau iri hati ketika Tuhan memberkati orang lain atau ketika berkat yang kita terima berbeda dengan orang lain.

3.       Menjalani hidup menghasilkan “buah yang baik”, sebagai ungkapan syukur atas pemeliharaan Tuhan.

 

KASIH TUHAN UNTUK SEMUA

 

Saudara yang dikasihi Tuhan,

 

Kita tentu pernah berhadapan dengan situasi ketika seseorang merasa diperlakukan tidak adil atau mungkin kita sendiri pernah berada dalam situasi tersebut. Seseorang merasa tidak adil, misalnya, ketika ia melihat orang lain menerima "lebih" dari dirinya. "Lebih" di sini bisa berarti lebih banyak, lebih baik, lebih baru, atau kelebihan lainnya. Perasaan diperlakukan tidak adil dapat membuat seseorang menjadi iri, kesal, marah, atau bahkan melakukan protes dengan memberontak atau membangkang, tidak melakukan apa yang diperintahkan. Ketika seseorang sampai pada kesimpulan tersebut, tentu ada dasar pemikiran yang melatarbelakanginya. Namun apakah dasar pemikiran itu benar di hadapan Tuhan? Mari kita belajar dengan mendasarkan diri pada firman Tuhan.

 

Ketika Yesus menjelaskan tentang Kerajaan Surga kepada para murid, Ia menyampaikannya melalui sebuah perumpamaan tentang seorang pemilik kebun anggur. Pemilik ini mencari pekerja untuk kebunnya. Ada lima tahap yang dilakukannya dalam merekrut pekerja. Ia mulai mempekerjakan orang pada pagi-pagi benar, pada pukul 9, pada pukul 12 siang, pada pukul 3 sore, dan yang terakhir pada pukul 5 sore.

 

Pada malam harinya, ketika semua selesai bekerja, pemilik kebun anggur itu memberikan upah sebesar satu dinar kepada semua pekerja, baik yang mulai bekerja pagi-pagi maupun mereka yang bekerja lebih siang. Pekerja yang mulai bekerja pagi-pagi bersungut-sungut karena mereka berpikir akan mendapatkan upah lebih dari yang lain. Namun kenyataannya, mereka menerima upah satu dinar, sama dengan yang lain, padahal mereka lebih lama bekerja. Mereka bersungut-sungut, bukan karena Pemilik kebun melanggar kesepakatan yaitu upah sedinar sehari. Melainkan karena mereka melihat orang lain menerima upah yang sama padahal waktu bekerjanya lebih singkat. Tetapi pemilik kebun anggur itu menjawab, "Tidakkah aku boleh mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?" (ayat 15a). Jawaban ini menyiratkan bahwa Allah memiliki hak prerogatif untuk memberkati umat-Nya. Berkat-Nya tidak berdasarkan ukuran manusia, melainkan berdasarkan kemurahan kasih-Nya.

 

Hal yang sama juga dapat kita baca dalam kisah Yunus. Ia marah dan kesal karena Tuhan mengurungkan niat-Nya untuk mendatangkan malapetaka kepada penduduk Niniwe. Bagi Yunus, penduduk Niniwe sangat pantas mendapatkan penghukuman. Baginya, lebih baik ia mati daripada menyaksikan Niniwe selamat. Namun, Tuhan mengajarkan kepadanya tentang kasih yang tidak terbatas dengan menumbuhkan pohon jarak yang menaunginya. Ketika pohon itu mati, Yunus kecewa dan ia memilih untuk mati. Namun, Tuhan berkata, "Patutkah engkau marah?" (TB2-Yun. 4:4). Jika Yunus bersedih untuk pohon jarak yang tidak ia tanam dan tumbuhkan, terlebih lagi Tuhan menyayangi 120.000 penduduk Niniwe yang belum mengerti cara hidup yang benar. Mereka diciptakan dan dipelihara oleh Allah. Tentu, Allah mengasihi mereka. Terlebih lagi, penduduk Niniwe yang jahat itu sekarang sudah bertobat. Bagaimana tidak Allah mengasihi dan mengampuni mereka? Yunus tidak perlu marah, kesal, atau iri hati ketika Allah mengasihi penduduk Niniwe yang dalam pandangannya jahat. Sebab, Allah memiliki kebebasan untuk mengasihi siapa saja.

Tuhan mengasihi semua orang. Ia memelihara kehidupan semua orang. Ukuran kasih Allah kepada manusia tidak didasarkan pada ukuran manusia, melainkan pada kemurahan kasih-Nya. Allah memiliki hak prerogatif untuk menggunakan kewenangan-Nya tersebut dalam mengasihi umat-Nya berdasarkan hikmat-Nya.

 

Lalu, apa yang harus kita lakukan?

1.       Seperti Pemazmur yang memuji keagungan dan kemurahan hati Allah, demikian pula hendaknya kita percaya pada kemurahan hati Allah kepada semua orang. Kemurahan-Nya berdasarkan hikmat-Nya, bukan ukuran manusia.

2.       Tidak bersungut-sungut, kesal, atau iri hati ketika Tuhan memberkati orang lain atau ketika berkat yang kita terima berbeda dengan orang lain.

3.       Seperti Rasul Paulus, karena hidup yang kita jalani adalah anugerah Tuhan, mari kita menjalani hidup dengan menghasilkan "buah yang baik". Hidup seperti ini adalah ungkapan syukur atas pemeliharaan Tuhan.

 

Bunda Teresa pernah berkata, "Jika kita sibuk mencari kesalahan orang lain, kita akan kehabisan waktu untuk mengasihi orang lain." Oleh karena itu, marilah kita semakin fokus mengasihi orang-orang di sekitar kita, bahkan mereka yang tampaknya tidak pantas untuk dikasihi. Mengapa? Karena Tuhan mengasihi semua orang. Tuhan menghendaki kita pun menjadi alat untuk menyatakan kasih-Nya yang tidak terbatas kepada semua orang. Amin

 

Sumber: Khotbah Jankep Sinode GKJ, 20 Sept 2026 @Pdt. Marya Sri Hartati (GKJ Joglo)

Khotbah Terkait

← Back to Sermons