Ibadah yang Memilih Kehidupan
Ibadah yang Memilih Kehidupan
(Matius 18 : 15 – 20)
Apakah hati kita pernah merasa tidak damai setelah pulang dari beribadah? Padahal dalam ibadah kita bernyanyi, berdoa dan mendengarkan firman. Tetapi mengapa kok hati kita tidak damai? Masih sering marah, simpan dendam, iri hati dan sudah memaafkan. Bukankah kita baru saja selesai ibadah? Barangkali perlu kita munculkan pertanyaan dalam hati, “Apakah ibadah hanya sesuatu yang kita lakukan di gereja, ataukah ibadah itu ikut membentuk kehidupan kita setelah keluar dari gereja?”
Injil Matius 18 membicarakan adanya
sebuah persoalan dalm relasi. Di dalam injil ini, Yesus mengatakan: “Jika
saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata.” Bagaimana ktia
merespons perkataan Yesus ini? Apakah menegur adalah sesuatu yang mudah?
Bukankah lebih mudah untuk kita memilih diam, menjauh, atau menjadikannya bahan
“rasanan” dengan orang lain?
Apa tujuan Yesus dengan teguran ini?
Apakah Yesus bermaksud memermalukan orang yang bersalah? Bukan! Apa yang
diharapkan Yesus dengan perkataan, “Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah
mendapatnya kembali?” Tidak lain adalah pemulihan. Saudara, teman, sahabat yang kehilangan arah, berbuat dosa
diharapkanNya kembali, dan relasi yang rusak diharapkanNya dapat pulih kembali.
Di sinilah ibadah menjadi pilihan kepada kehidupan. Setelah berjumpa dengan
Tuhan, kita diajar memilih: mengampuni daripada membenci, peduli daripada
mengabaikan, memulihkan daripada menjauh.
Bulan Katekese Liturgi mengingatkan kita bahwa
ibadah bukan hanya tentang apa yang kita lakukan di dalam gereja, tetapi juga
tentang bagaimana ibadah membentuk kehidupan kita setelah meninggalkan gereja.
Kita datang kepada Tuhan untuk berjumpa dengan-Nya, mendengarkan firman-Nya,
dan menerima kasih-Nya. Karena itu, kita pun dipanggil untuk membawa kasih itu
dalam kehidupan sehari-hari: memilih mengampuni daripada membenci, memulihkan
daripada menjauh, dan peduli daripada membiarkan. Sebab ibadah yang sungguh-sungguh
bukan hanya membuat kita semakin dekat dengan Tuhan, tetapi juga membuat kita
semakin mampu memilih kehidupan bagi sesama.Selamat memilih kehidupan! (Pdt.
YS)