Pertobatan dan Ketaatan
DASAR PEMIKIRAN
Kehidupan orang beriman harus ditandai dengan pertobatan dan ketaatan. Dimulai dengan kesadaran bahwa kita adalah manusia yang penuh kelemahan dan keterbatasan, memiliki cidera manusiawi, sehingga selama hidup di dunia ini kita masih sangat mungkin jatuh dalam dosa. Dengan bertobat maka kita akan menerima rahmat pengampunan dan pemulihan dari Tuhan. Namun pertobatan tidak sekadar mengaku dosa dan mengatakan, “Tuhan ampunilah dosa kami”. Pertobatan tidak hanya ungkapan verbal, namun juga harus diikuti tindakan nyata, yaitu hidup dalam ketaatan kepada kehendak Tuhan. Itulah pertobatan yang sejati, ada kerendahan hati untuk mau mengakui dan menyesali dosanya, dan diikuti dengan ketaatan yang sungguh-sungguh.
Diakui atau tidak, ada banyak orang, termasuk orang yang mengaku beriman, namun ketika melakukan pelanggaran atau dosa, tidak sungguh-sungguh bertobat. Orang tersebut merasa seolah-olah tidak bersalah, sehingga dosa terus dilakukan. Atau ada orang yang bertobat, namun pertobatannya semu, hanya sebatas kata-kata. Pertobatan yang tidak disertai ketaatan. Di sisi lain, ada orang yang nampak taat, dengan tekun ke gereja dan mengikuti berbagai kegiatan gereja lainnya, sangat ketat terhadap aturan gereja. Sayangnya, semua dilakukan hanya untuk mendapatkan pujian. Ia taat namun tidak rendah hati.
Pertobatan yang sejati adalah pertobatan yang lahir dari hati, penuh kesadaran dan kerendahan hati. Pertobatan yang sejati juga harus dikuti dengan ketaatan yang penuh dengan kerendahan hati, serta ketaatan yang dilakukan dengan penuh syukur atas kasih karunia Tuhan, sehingga akan mendatangkan sukacita dalam hidup, bukan beban.
KETERANGAN BACAAN
Yehezkiel 18:1-4, 25-32
Yehezkiel 18 berlatar belakang kehidupan bangsa Israel yang sedang berada dalam pembuangan di Babel, sebagai konsekuensi dari dosa-dosa mereka dan ketidaksetiaan mereka kepada Tuhan. Dalam situasi ini, banyak orang Israel merasa bahwa mereka sedang menanggung hukuman karena dosa-dosa nenek moyang mereka. Dalam ayat 2, Tuhan menyebutkan pepatah yang digunakan oleh bangsa Israel pada waktu itu: "Ayah-ayah makan buah mentah dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu." Pepatah
ini mencerminkan pandangan bahwa anak-anak menanggung konsekuensi dari tindakan orang tua mereka. Tuhan menggunakan kesempatan ini untuk menekankan bahwa setiap individu bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri, bukan atas tindakan nenek moyang mereka. Setiap orang akan menerima konsekuensi dari tindakan mereka sendiri. Di sisi lain, Tuhan menegaskan keadilan-Nya dengan menyatakan bahwa Ia tidak berkenan akan kematian orang fasik, melainkan agar orang fasik itu bertobat dan hidup. Ini menunjukkan bahwa Tuhan menginginkan pertobatan dan keselamatan bagi semua orang. Oleh karena itu, melalui nabi Yehezkel, Tuhan menyerukan kepada bangsa Israel untuk bertobat dari dosa-dosa mereka dan berbalik kepada-Nya. Tuhan menawarkan kesempatan untuk hidup dalam kebenaran dan mendapatkan pengampunan jika mereka bertobat.
Jadi konteks Yehezkiel 18 menekankan pentingnya tanggung jawab individu dan panggilan untuk hidup dalam kebenaran di hadapan Tuhan, serta menawarkan harapan untuk pertobatan dan pemulihan bagi mereka yang bersedia berbalik kepada-Nya.
Mazmur 25
Mazmur ini adalah doa permohonan yang dipanjatkan oleh seorang yang mencari bimbingan dan pengampunan Tuhan. Penulis mazmur ini menunjukkan kerendahan hati dengan mengakui kelemahan dan dosa-dosanya di hadapan Tuhan, serta memohon Tuhan untuk mengampuni dan memimpinnya. Hal ini menunjukkan kesadaran Pemazmur bahwa ia membutuhkan kasih karunia dan pengampunan Tuhan.
Ia juga memohon Tuhan untuk membimbingnya ke jalan yang benar dan mengajarkannya untuk melakukan kehendak Tuhan. Jadi di samping ada pertobatan, juga ada keinginan untuk hidup taat, yaitu hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan mengikuti jalan-Nya. Dorongan hati Pemazmur untuk hidup dalam pertobatan dan ketaatan dilandasi oleh keyakinan iman dan pengakuan akan kasih setia Tuhan. Jadi ia mengakui kasih setia Tuhan dan memohon Tuhan untuk mengingat kasih setia-Nya.
Filipi 2:1-13
Filipi 2:1-13 merupakan nasihat Rasul Paulus kepada jemaat Filipi, agar mereka tetap rukun dan tetap bersatu. Sebenarnya saat itu jemaat di Filipi tampak sehat dan baik-baik saja, bahkan di pasal 1 Paulus memuji kebersamaan dan persekutuan mereka. Di sinilah menariknya! Bahwa di tengah kehidupan persekutuan yang tampaknya baik-baik saja, adem ayem itulah justru Paulus memberikan nasihat agar jemaat Filipi tetap bersatu, sehati sepikir dalam kasih Kristus, karena Paulus melihat ada tantangan internal maupun eksternal yang berpotensi memecah belah kehidupan persekutuan mereka. Tantangan secara internal antara lain karena adanya perbedaan pendapat dan sikap di antara anggota jemaat. Di samping itu juga perbedaan pendapat antara dua pemimpin jemaat saat itu, yaitu Euodia dan Sintikhe yang bisa memicu konflik. Sedangkan tantangan secara eksternal adalah munculnya pengajar-pengajar palsu dan adanya tekanan dari luar terhadap keberadaan mereka sebagai kaum minoritas. Tantangan-tantangan tersebut bisa mempengaruhi kesatuan jemaat. Karena hal inilah maka Paulus memberikan nasihat dengan menunjuk kepada Kristus Yesus yang rela mengosongkan diri-Nya dan menjadi hamba serta taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Di sinilah Paulus mengajak jemaat Filipi agar meneladan Kristus, yaitu memiliki kerendahan hati. Untuk memiliki kerendahan hati itu, Paulus mengatakan agar setiap jemaat di Filipi tidak hanya memperhatikan kepentingannya sendiri (ayat 4). Kata kepentingan diri dalam bahasa Yunani eritheia yang artinya, ambisi pribadi, sifat mementingkan diri dan tindakan manipulatif untuk kepentingan diri. Eritheia bisa memecah belah kehidupan bersama. Selain itu Paulus juga menasihati agar jemaat tidak mencari puji-pujian yang sia-sia. Dengan kata lain, kerendahan hati itu bisa diwujudkan dengan menghindari kesombongan, keegoisan dan popularisme.
Matius 21:23-32
Dikisahkan dalam perikop ini bahwa saat Yesus sedang mengajar di Bait Allah, datanglah imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Mereka ini tokoh yang keberadaannya tidak bisa diremehkan begitu saja. Jabatan sebagai pemimpin agama umat Yahudi melekat dalam diri mereka. Mereka memegang kekuasaan, punya pamor, dan populer. Rupanya mereka sangat bangga dan menikmati semua itu. Sayangnya, hal itu justru membuat mereka menjadi arogan. Salah satu simbol arogansi mereka adalah dijejalkannya pelbagai aturan agamawi yang detail/rinci, sebagai turunan dari Dasa Titah, yang menekan dan melelahkan batin umat. Ironisnya, berbagai aturan tersebut malah menjauh dari inti utama hukum Allah yakni mengasihi Tuhan dan sesama. Tidak jarang, berbagai aturan yang detail itu justru mereka gunakan untuk menghakimi dan menjatuhkan orang lain; untuk dengan mudah menuding orang lain dosa atau tidak. Dengan cara itu mereka hendak menampakkan diri sebagai orang yang suci dan saleh. Mereka menunjuk dosa orang lain, sementara diri sendiri merasa suci sehingga tidak memerlukan pertobatan. Orang lain dipandang secara rendah, sedangkan mereka sendiri tidak mau merendahkan diri di hadapan Tuhan. Hal itulah yang membuat mereka menolak kehadiran Yohanes Pembaptis, bahkan menolak Yesus sendiri. Mata hati mereka telah dibutakan oleh kesombongan diri, sehingga merasa tidak membutuhkan keselamatan dari Allah.
Dalam percakapan dengan Tuhan Yesus, mereka mengajukan pertanyaan tentang kuasa Yesus. Pertanyaan tersebut sebenarnya adalah ekspresi kegelisahan, gugatan sekaligus jebakan mereka untuk menjatuhkan pamor Yesus. Namun dengan cerdik, Yesus balik bertanya tentang asal muasal baptisan Yohanes Pembaptis: “dari sorga atau dari manusia?” Mereka pun gagal memperdaya Yesus! (ay, 25-27). Sebaliknya, pertanyaan Yesus tersebut seperti pukulan telak atas keangkuhan mereka untuk mengakui, mempercayai dan menerima pelayanan Yohanes Pembaptis sebagai utusan ilahi.
Selanjutnya, Yesus pun menegur mereka dengan kisah perumpamaan seorang bapak yang mempunyai dua anak laki-laki (Matius 21:23-32). Kedua anak itu dimintanya untuk bekerja di kebun anggur. Anak pertama menyatakan kesediaannya dengan menjawab, "Ya" atas permintaan bapaknya ini. Sedangkan sang adik dengan tegas mengatakan, "Tidak!" Namun, apa yang terjadi kemudian? Jawaban "Ya" dari anak yang pertama ternyata dalam praktiknya tidak dikerjakan. Ia tidak pergi ke kebun anggur ayahnya itu. Sedangkan anak kedua yang awalnya menolak, kemudian menyesal dan melakukan perintah ayahnya.
Imam-imam kepala yang berdebat dengan Yesus adalah representasi dari anak pertama dalam cerita perumpamaan itu. Mereka mendengar peringatan Yohanes Pembaptis yang menyerukan pertobatan, tetapi tidak merespon dengan baik. Jangankan berubah pikiran, mereka malah memusuhi dan sibuk mencari alasan untuk menyingkirkan baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus. Mereka sudah menganggap diri paling benar, paling ahli dalam pengetahuan tentang ajaran agama, namun hidup mereka tidak mengerjakan kehendak Allah. Kesombongan membuat mereka tidak mau merendahkan diri di hadapan Allah, dan tidak rendah hati terhadap sesama. Sedangkan anak kedua yang awalnya menolak tetapi kemudian menyesal dan melakukan perintah melambangkan pemungut cukai dan perempuan sundal yang menerima amanat Yohanes dan bertobat.
Pesan utama dari Matius 21:23-32 adalah bahwa ketaatan yang sebenarnya tidak hanya terletak pada kata-kata, tetapi pada tindakan nyata. Pemungut cukai dan perempuan sundal yang dianggap sebagai orang-orang berdosa dapat mendahului para pemimpin agama masuk ke dalam Kerajaan Allah jika mereka bertobat dan melakukan kehendak Tuhan. Bagian ini juga menekankan pentingnya iman yang nyata dan ketaatan kepada Tuhan, bukan hanya pengakuan verbal seperti yang dilakukan oleh para pemimpin agama Yahudi. Mereka terlihat taat, namun hatinya penuh keangkuhan. Ketaatan mereka pun sekadar untuk mencari popularitas.
POKOK DAN ARAH PEWARTAAN
Belajar dari pengajaran Yesus terhadap para pemimpin agama Yahudi dalam Matius 21:23-32, khotbah diarahkan untuk mendorong umat untuk hidup dalam pertobatan sejati yang diikuti dengan ketaatan dan sikap rendah hati. Dari bacaan pertama, umat bisa melihat kesempatan yang diberikan Allah kepada umat-Nya untuk bertobat, yaitu meninggalkan dosa-dosa mereka dan berbalik kepada Allah (Yehezkiel 18:1-4, 25-32). Dari Mazmur tanggapan, Pemazmur menunjukkan sebuah pertobatan sejati, pertobatan yang lahir dari hati yang penuh kesadaran akan dosa dan memohon ampun kepada Allah, lalu diikuti dengan hidup di jalan Tuhan, seturut kehendak Tuhan. Dengan kata lain, pertobatan sejati diikuti dengan ketaatan. Matius 21:23-32 menunjukkan sikap para pemimpin agama Yahudi yang justru tidak hidup dalam pertobatan yang sejati dan ketaatan yang sungguh-sungguh. Ketaatan para pemimpin agama Yahudi kontras dengan ketaatan Yesus (Filipi 2:1-13). Ketaatan para pemimpin agama Yahudi adalah ketaatan yang penuh kesombongan, sepertinya taat namun menolak kasih karunia Allah. Sedangkan ketaatan Yesus adalah ketaatan yang rendah hati. Ia mengosongkan diri dan taat sampai mati di kayu salib.
KHOTBAH JANGKEP BAHASA INDONESIA
PERTOBATAN DAN KETAATAN
Dua orang sahabat (si A dan si B) yang telah lama tidak berjumpa, bercakap-cakap: “Jadi kau sudah bertobat dan menjadi pengikut Kristus?”, tanya si A. “Ya, aku sekarang pengikut Kristus.” jawab si B. “Kalau begitu tentu kamu tahu banyak tentang Dia. Misalnya, di negara mana Ia dilahirkan?” “Aku tidak tahu” jawab si B. “Berapa usiaNya waktu Ia wafat?”, tanya si A lagi. “Aku juga tidak tahu”, jawab si B. Sambil menggeleng-gelengkan kepala tanda heran, si A kemudian berkata, ”Untuk orang yang menyatakan diri telah bertobat dan menjadi pengikut Kristus, pengetahuanmu sedikit sekali, teman.” Namun si B berkata, “Kau memang benar, aku malu karena begitu sedikit pengetahuanku tentang Yesus Kristus, tetapi sekurang-kurangnya aku tahu hal ini: Setahun yang lalu, aku seorang pemabuk, hutangku banyak untuk berjudi, anak-istriku selalu takut kepadaku setiap kali aku pulang, Tetapi sekarang aku tidak minum-minum lagi, hutangku lunas karena aku tidak berjudi lagi, dan anak istriku dengan sukacita menantiku pulang ke rumah setiap hari. Itu semua terjadi karena aku merasakan kasih Yesus yang luar biasa dalam hidupku.”
Kisah hidup si B menjadi salah satu contoh pertobatan yang sejati. Ada kerendahan hati untuk mengakui bahwa pengetahuannya tentang Kekristenan memang masih sangat terbatas, namun ia mau membuka diri menerima kasih Kristus sehingga ia bertobat. Pertobatannya tidak sekedar pengakuan di mulut, namun diikuti dengan perubahan hidup yang konkret. Ia yang perbuatannya dulu tidak seturut dengan kehendak Tuhan dan tidak peduli dengan orang lain, kini menjadi seorang yang taat kepada Tuhan. Jadi, pertobatannya membuahkan ketaatan kepada Tuhan dan bisa menjadi berkat untuk orang lain.
Kalau kita perhatikan, kehidupan si B berkebalikan dengan kehidupan para pemimpin agama Yahudi, yaitu imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Mereka sangat paham aturan dan ajaran agama, namun di dalam hidupnya tidak ada pertobatan. Hal ini tampak dalam bacaan Injil Matius 21: 23-32. Imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi adalah tokoh yang keberadaannya tidak bisa diremehkan begitu saja. Jabatan sebagai pemimpin agama umat Yahudi melekat dalam diri mereka. Mereka memegang kekuasaan, punya pamor, dan populer. Rupanya mereka sangat bangga dan menikmati semua itu, sehingga mereka menjadi arogan. Aturan-aturan agamawi yang detail mereka pelajari, merka kuasai, perhatikan dan berlakukan. Tidak jarang, berbagai aturan yang detail itu justru mereka gunakan untuk menghakimi dan menjatuhkan orang lain; untuk dengan mudah menuding orang lain dosa atau tidak. Dengan cara itu mereka hendak menampakkan diri sebagai orang yang suci dan saleh. Mereka menunjuk dosa orang lain, sementara diri sendiri merasa suci sehingga tidak memerlukan pertobatan. Orang lain dipandang secara rendah, sedangkan mereka sendiri tidak mau merendahkan diri di hadapan Tuhan. Hal itulah yang membuat mereka menolak kehadiran Yohanes Pembaptis, bahkan menolak Yesus sendiri.
Untuk menegur mereka, maka Yesus menceritakan perumpamaan mengenai seorang bapak yang mempunyai dua anak laki-laki (Matius 21:28-32). Kedua anak itu dimintanya untuk bekerja di kebun anggur. Anak pertama menyatakan kesediaannya dengan menjawab, "Ya" atas permintaan bapaknya. Sedangkan sang adik dengan tegas mengatakan, "Tidak!" Namun, apa yang terjadi kemudian? Jawaban "Ya" dari anak yang pertama ternyata dalam praktiknya tidak dikerjakan. Ia tidak pergi ke kebun anggur ayahnya itu. Sedangkan anak kedua awalnya menolak tetapi kemudian menyesal dan pergi melakukan perintah ayahnya.
Anak pertama dalam perumpamaan itu menunjuk pada para pemimpin agama Yahudi. Mereka sudah menganggap diri paling benar, paling ahli dalam pengetahuan tentang ajaran agama, namun mereka tidak mengerjakan kehendak Allah. Ketaatan mereka adalah ketaatan yang semu. Sebab mereka taat hanya untuk memperlihatkan bahwa mereka orang yang saleh, agar mereka dipuji orang dan menjadi populer. Mereka terlihat taat namun ketaatan itu tidak disertai dengan kerendahan hati, sebab mereka merasa diri sebagai orang yang suci, yang tidak perlu bertobat. Ketaatan mereka hanya sebatas kata-kata, namun tidak mewujud dalam Tindakan nyata yang seturut kehendak Allah. Ketaatan mereka semu, tanpa kerendahan hati dan tidak disertai perilaku yang seturut kehendak Tuhan. Ini menunjukkan bahwa sebenarnya di dalam diri mereka tidak ada pertobatan yang sejati. Tuhan yang penuh kasih setia selalu memberikan kesempatan kepada umat-Nya untuk bertobat, sehingga umat mendapatkan anugerah keselamatan. Dalam bacaan I, yaitu Yehezkiel 18:1-4, 25-32, melalui nabi Yehezkel, Tuhan menyerukan kepada bangsa Israel untuk bertobat dari dosa-dosa mereka dan berbalik kepada-Nya. Tuhan menawarkan kesempatan untuk hidup dalam kebenaran dan mendapatkan pengampunan jika mereka bertobat. Dan Pemazmur dalam Mazmur 25 sungguh-sungguh memanfaatkan kesempatan yang berharga itu. Dengan dilandasi oleh keyakinan iman dan pengakuan akan kasih setia Tuhan, Pemazmur dengan rendah hati mengakui kelemahan dan dosa-dosanya di hadapan Tuhan, serta memohon Tuhan untuk mengampuni dan memimpinnya. Hal ini menunjukkan kesadaran Pemazmur bahwa ia membutuhkan kasih karunia dan pengampunan Tuhan. Ia juga memohon Tuhan untuk membimbingnya ke jalan yang benar dan mengajarkannya untuk melakukan kehendak Tuhan. Jadi di samping ada pertobatan, juga ada keinginan untuk hidup taat, yaitu hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan mengikuti jalan-Nya. Bagaimana dengan kita? Apakah di dalam kehidupan kita sebagai pengikut Kristus juga ada pertobatan dan ketaatan?
Melalui Injil Matius 21:23-32 Tuhan Yesus mengingatkan kita semua agar kita hidup dalam pertobatan yang sejati. Bagaimana hal itu bisa kita lakukan?
1. Jangan sampai kita menjadi orang “Kristen Tanpa Pertobatan” (kita biasa menyebut dengan istilah Kristen KTP), seperti para pemuka agama Yahudi. “Orang Kristen KTP” ketoke memang Kristen, kelihatannya ke gereja, sangat paham firman Tuhan dan aturan-aturan agama. Sayangnya di dalam hidupnya tidak ada pertobatan. Atau merasa diri baik-baik saja karena sudah Kristen dan aktif ke gereja, sampai-sampai tidak merasa perlu bertobat. Keaktifannya ke gereja dan pengetahuannya yang baik tentang aturan agama seolah dijadikan topeng untuk menutupi segala dosa dan pelanggarannya. Akibatnya hanya terlihat saleh namun tidak ada pertobatan. Bukankah memprihatinkan kalau ada orang Kristen seperti ini?
2. Pertobatan yang sejati tidak sekadar pengakuan di mulut atau sebatas ungkapan penyesalan dosa. Kalau dalam setiap ibadah Minggu kita diajak untuk mengaku dosa, lalu kita mengucapkan, “Tuhan, ampunilah kami”, bisa saja itu baru sampai pada sikap “mengaku atau menyesal”, belum sampai pada pertobatan yang sejati. Mengapa? Sebab di dalam pertobatan yang sejati, perlu ada proses pembaruan hidup. Tanpa proses pembaruan hidup, maka seluruh perbuatan baik atau pelayanan yang kita lakukan akan menjadi sia-sia. Apa artinya perbuatan baik dan pelayanan gerejawi yang hebat, tetapi di balik itu dosa masih saja kita lakukan? Dengan kata lain, pertobatan sejati harus disertai dengan ketaatan. Ketaatan para pemimpin agama Yahudi (dalam Matius 21:23-32) dan ketaatan Yesus (disaksikan dalam bacaan II, Filipi 2:1-13) sangatlah kontras. Para pemimpin agama Yahudi menunjukkan ketaatan yang semu, ketaatan yang diwarnai dengan kesombongan. Sedangkan Yesus mengosongkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib. Ketaatan Yesus adalah ketaatan yang penuh kerendahan hati, bukan pencitraan. Ketaatan yang rendah hati itulah yang harus kita teladani.
Mari kita menyadari bahwa keberadaan kita sebagai manusia penuh dengan keterbatasan dan kelemahan, sehingga kita mudah jatuh dalam godaan dosa dan pelanggaran. Kita menyadari bahwa hanya Tuhan yang sanggup untuk menolong kita. Oleh karena itu dengan rendah hati kita harus datang kepada Tuhan dalam pertobatan sejati. Dan selanjutnya, pertobatan harus kita ikuti dengan ketaatan kepada kehendak Kristus. Ketaatan yang rendah hati! Jangan sampai seperti para pemimpin agama Yahudi, sepertinya taat tetapi penuh kesombongan. Sudah merasa diri sebagai orang yang saleh dan benar. Akibatnya tidak membutuhkan pertobatan, dan menolak kasih karunia Tuhan. Apa jadinya? Kita akan jauh dari Kerajaan Allah. Amin
(Bahan Khotbah Jankep Sinode, Minggu 27 September 2026)