Sapu, Senam, dan Sidang Spontan: Catatan "Resik-Resik Gereja" GKJ Salatiga
SALATIGA - Bulan Keluarga GKJ Salatiga sepanjang Oktober 2026 ditutup dengan cara yang sederhana tetapi bermakna. Sabtu (31/10), kompleks gereja di Jalan Diponegoro 55 ramai oleh jemaat dan aktivis yang mengikuti aksi "Resik-Resik Gereja".
Kegiatan dibuka dengan senam bersama dipagi hari saat udara masih terasa dingin dan sinar matahari terasa hangat. Setelah badan segar, peserta menyebar ke empat zona sesuai wilayah pelayanan: halaman depan, halaman belakang, ruang ibadah utama, dan ruang ibadah tambahan di gedung pertemuan. Sudut-sudut kecil di sekitar pos satpam, ruang sekolah minggu, dan kantor gereja juga ikut dibersihkan. Peserta membawa sapu kebun, sabit, dan alat pel sesuai area masing-masing.
Ada yang menarik dari konsumsinya. Makanan tidak diambil dari kas persembahan, tetapi disiapkan mandiri oleh tiap wilayah. Jajanannya pun produk UMKM rumahan milik warga jemaat sendiri, sehingga kerja bakti ini sekaligus ikut menggerakkan ekonomi jemaat. Sekat status sosial seolah luruh. Keluarga-keluarga bekerja berdampingan, sementara kaum ibu sigap menata hidangan bagi peserta yang datang silih berganti.
Suasana cair kerja bakti rupanya juga menjadi ruang bagi para aktivis menggelar “Sidang Spontan” yang membincangkan isu-isu strategis—mulai dari tata gereja hingga keuangan. Terkait isu tata gereja yang diperbincangkan tiadanya istilah "gembala jemaat". Hasil penelusuran dokumen Tata Gereja terbaru ( edisi 2018) pada Pasal 10 ayat 2 secara faktual memang menunjukkan bahwa tidak ada pernyataan secara eksplisit yang menyatakan bahwa Pendeta adalah gembala jemaat. Pada pasal tersebut ditegaskan bahwa tugas utama jabatan pendeta adalah mengajar dan melayani sakramen. Dari temuan inilah mengemuka interpretasi bahwa peran penggembalaan tersebut mungkin melekat secara implisit pada tugas utama tersebut.
Obrolan lalu bergeser ke keuangan. Angka persembahan yang terus menurun dari tahun ke tahun membuat anggaran komisi dipangkas, sehingga muncul wacana efisiensi, diselingi gurauan bernada kritis. Namun, percakapan yang berkembang menilai penurunan itu bukan tanda lesunya semangat memberi, melainkan pergeseran pola. Jemaat kini banyak menyalurkan dukungan langsung ke kegiatan komisi, dalam bentuk uang, barang, natura, maupun jasa. Ada pula yang meminjamkan kendaraan lengkap dengan sopir dan bahan bakarnya. Fenomena ini menjadi catatan agar tata kelola keuangan gereja makin adaptif terhadap dinamika akar rumput.
Lewat keringat, jajanan UMKM, dan diskusi di sela sapu dan kain pel, "Resik-Resik Gereja" tak sekadar membersihkan bangunan. Kegiatan ini juga merawat kesadaran bersama, sejalan dengan pesan 1 Korintus 15:58 “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (Yts)