Mengakarkan Sabda Membuahkan Kasih

Bahan Kotbah Jangkep Minggu 1, Oktober 2026 · Oct. 5, 2026

 Mengakarkan Sabda, Membuahkan Kasih

 

Bacaan I: Keluaran 20:1-4, 7-9, 12-20

 

Mazmur Tanggapan: Mazmur 19

 

Bacaan II: Filipi 3:4b-14

 

Bacaan Injil: Matius 21:33-46

DASAR PEMIKIRAN

 

Pada awal tahun 2026, Fuller Youth Institute (FYI) merilis hasil penelitian mengenai hubungan antara Generasi Alpha dan perkembangan iman.1 Penelitian ini melibatkan sekitar 3.000 responden anak dan remaja guna memperoleh gambaran yang representatif terkait faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan iman mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran orang tua menempati posisi paling dominan, dengan kontribusi sebesar 65% dalam membentuk iman anak. Pengaruh ini kemudian diikuti oleh kakek-nenek sebesar 28%, teman sebaya 26%, pembimbing rohani 21%, serta saudara kandung sebesar 13%.

 

Di Indonesia sendiri, Bilangan Research Center (BRC) juga merilis penelitian hal yang sama tentang topik perkembangan spiritualitas generasi muda Kristen di Indonesia.2 Sekalipun data di rilis tahun 2018, sebelum pandemi, data yang ditunjukkan tidaklah jauh berbeda tentang peranan orang tua yang masih sangat besar dalam pertumbuhan spiritual anak.

 

Jika kedua temuan ini dibaca bersama, lintas waktu dan konteks, kita menemukan satu benang merah yang konsisten: keluarga, khususnya orang tua, tetap menjadi pusat gravitasi dalam pembentukan iman. Artinya, sekalipun dunia berubah bahkan setelah pengalaman besar seperti pandemi fondasi spiritual anak tetap berakar kuat pada relasi yang paling dekat dengan mereka. Keluarga bukan sekadar ruang pertama, tetapi juga ruang yang paling utama membentuk arah iman seseorang.

 

Dari sinilah percakapan bergeser ke hal yang lebih mendasar: apa yang sebenarnya menghidupi keluarga itu sendiri? Dalam tradisi iman Kristen, jawabannya tidak terlepas dari peran Sabda Allah. Kehadirannya bukan sekadar elemen tambahan, melainkan inti yang memberi arah dan makna. Tanpa Sabda Allah yang hidup di dalam relasi sehari-hari, sulit membayangkan iman yang bertumbuh secara kokoh dan berakar.

 

Namun, persoalannya tidak berhenti pada sekadar mengakui pentingnya Sabda Allah. Tantangan yang sebenarnya adalah bagaimana Sabda itu sungguh-sungguh dijalani dalam kehidupan sehari-hari. Ia tidak cukup jika hanya dihafal atau ditaati sebagai aturan dari luar. Sabda Allah baru menjadi hidup ketika meresap ke dalam cara kita berpikir, membentuk sikap hati, dan perlahan tampak nyata dalam tindakan sederhana setiap anggota keluarga.

 

PENJELASAN TEKS

 

Keluaran 20:1-4, 7-9, 12-20

 

Perikop ini menampilkan Sepuluh Hukum Tuhan bukan sekadar kumpulan larangan moral serta bukan semata-mata aturan hukum dengan ancaman sanksi. Lebih dari itu, hukum-hukum ini dapat dipahami sebagai tatanan dasar yang menolong manusia memahami bagaimana ia seharusnya hidup. Dalam pemahaman yang lebih mendalam, Sepuluh Hukum Tuhan dapat dilihat sebagai semacam “kerangka koordinat” yang menempatkan manusia secara tepat dalam relasinya baik dengan Allah maupun dengan sesama. Secara sederhana, hukum ini pada dasarnya bukan untuk membatasi, melainkan untuk mengarahkan, agar manusia tidak terjebak dalam kekacauan relasi yang malah merusak kehidupannya sendiri.


Dalam konteks keluarga, perintah untuk menghormati orang tua (ay.12) dan larangan memberikan kesaksian dusta (ay.16) menyentuh hal yang sangat mendasar dalam hidup bersama. Menghormati orang tua tidak berhenti pada sopan santun (etiket) atau sekadar menaati otoritas, tetapi berkaitan dengan proses yang lebih dalam yakni bagaimana seseorang dibentuk dalam identitasnya. Kata “hormatilah” dalam bahasa Ibrani disebut (kabbed) dari akar kata (kaved) yang berarti “berbobot” atau “bernilai”. Dorongan untuk menghormati terjadi karena ada nilai bahkan berbobot sehingga layak untuk menjadi perhatian. Siapa yang menempatkan orang tua sebagai figur yang layak dijunjung tinggi, dengan sendirinya dia sedang menaikkan nilai/bobot martabat keluarganya (bukan hanya orang tua, tapi juga dirinya sendiri). Di sisi lain, kata “supaya lanjut umurmu” dalam bahasa Ibrani (lema’an ya’arikhun yamekha) yang dapat diterjemahkan secara harfiah bukan sekadar panjang umur untuk pribadi namun juga hidup berkelanjutan dalam komunitas. Hubungan relasi keluarga tidak hanya berdampak dalam keluarga, namun juga komunitas yang lebih besar.

 

Sementara itu, larangan bersaksi dusta menegaskan bahwa kebenaran adalah dasar dari setiap komunikasi. Tanpa komitmen pada kebenaran, bahasa kehilangan maknanya sebagai sarana perjumpaan. Ia tidak lagi menjadi jembatan yang menghubungkan, melainkan berubah menjadi alat yang dapat melukai dan memanipulasi. Sekalipun pada zaman itu belum ada istilah “hoaks”, namun munculnya larangan agar tidak bersaksi dusta ini justru menjadi indikasi bahwa perpecahan dalam kehidupan amat sangat mungkin terjadi karena ada kebohongan-kebohongan.

 

Dalam suasana seperti ini, penting dipahami bahwa keluarga tidak lagi sekadar menjadi tempat tinggal. Ia menjadi ruang dialog, tempat setiap orang dapat bertumbuh. Di sana, kata-kata tidak kehilangan makna, dan setiap relasi memiliki dasar yang kuat untuk saling menopang.

 

Mazmur 19

 

Mazmur 19 mengajak umat melihat bagaimana Allah menyatakan diri-Nya lewat dua cara yang saling melengkapi. Pertama, melalui alam semesta (ay.2–7). Langit dan ciptaan menjadi semacam “bahasa” yang terus berbicara tentang kemuliaan Allah: tanpa kata-kata, tetapi dapat dipahami oleh semua orang, di mana pun dan kapan pun. Kedua, melalui Taurat Tuhan (ay.8–14). Jika alam memberi kesaksian yang luas dan universal, maka Taurat menghadirkan suara Allah yang lebih dekat dan jelas. Di dalamnya, manusia tidak hanya melihat siapa Allah, tetapi juga belajar bagaimana hidup dengan benar.

 

Jika alam berbicara melalui simbol dan keteraturan, maka Sabda Allah hadir dengan kejelasan yang langsung menyentuh kehendak manusia (lih. Ay.8). Pemazmur menyebut Sabda itu “sempurna,” yang dalam bahasa Ibrani berasal dari kata (tamim), berarti utuh, lengkap, tidak bercacat. Kesempurnaan ini menunjukkan bahwa Sabda Allah tidak ambigu; ia tidak sekadar memberi isyarat seperti alam, tetapi menyatakan arah hidup dengan terang. Karena itu, Sabda Allah bukan hanya untuk dikagumi, melainkan untuk direspons.

 

Lebih jauh, Sabda Allah memiliki daya transformasi yang nyata. Pemazmur mengatakan bahwa

Taurat Tuhan “menyegarkan jiwa.” Kata “jiwa” di sini berasal dari Ibrani           (nephesh), yang tidak hanya berarti roh, tetapi seluruh keberadaan hidup manusia yaitu pikiran, perasaan, dan kehendak. Sementara “menyegarkan” berasal dari akar kata (shuv), yang berarti “kembali” atau “dipulihkan.” Jadi, Sabda Allah bekerja dengan cara mengembalikan manusia pada keadaan yang seharusnya bahkan menyembuhkan keretakan batin dan mengarahkan ulang hidup yang sempat tersesat.

 

Sabda Allah juga memberi hikmat kepada mereka yang “tak berpengalaman.” Istilah ini berasal dari kata Ibrani (peti), yang menunjuk pada seseorang yang masih polos, terbuka, bahkan rentan disesatkan. Namun justru kepada merekalah Sabda diberikan, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk membentuk. Hikmat sendiri dalam tradisi Ibrani bukan sekadar pengetahuan, tetapi kemampuan menjalani hidup dengan benar di hadapan Allah. Dengan demikian, Sabda Allah menuntun manusia dari ketidaktahuan menuju kebijaksanaan yang membumi.

 

Akhirnya, Sabda Allah yang diwartakan oleh pemazmur tampil sebagai pemulih yang menyeluruh. Ia menerangi akal budi, menjernihkan hati, dan menata kembali kehendak manusia agar selaras dengan kebenaran ilahi. Pemulihan ini tidak hanya berdampak pada relasi vertikal antara manusia dan Allah, tetapi juga meluas ke relasi horizontal antar manusia. Ketika batin dipulihkan dan arah hidup diluruskan, manusia dimampukan untuk membangun kembali hubungan yang retak: hidup dalam keadilan, kejujuran, dan kasih yang nyata.


Filipi 3:4b-14

 

Rasul Paulus merefleksikan perjalanan hidupnya sebagai rasul dengan sangat tajam, terutama dalam surat kepada Jemaat di Filipi 3:5–8. Ia menggambarkan apa yang dapat disebut sebagai “identitas peran,” yakni identitas yang dibangun dari latar belakang sosial, tradisi religius, dan ketaatan lahiriah terhadap hukum. Sebagai seorang Farisi, Paulus memiliki semua yang diakui sebagai keunggulan: keturunan yang jelas, kesalehan yang disiplin, dan komitmen penuh terhadap Taurat. Semua ini adalah dasar identitas yang kokoh dan terhormat.

 

Namun Paulus justru membalikkan seluruh cara pandang itu. Apa yang dahulu ia anggap sebagai keuntungan, kini ia nilai sebagai kerugian demi Kristus. Identitas yang bertumpu pada pencapaian lahiriah sekalipun tampak mulia, tetap berada dalam batas yang sempit. Bagi Paulus tampaknya itu justru bahaya. Karena identitas lahiriah itu justru mudah berubah menjadi alat untuk membenarkan diri. Martin Luther menyebut kecenderungan ini sebagai usaha manusia untuk membangun “kebenaran diri” (self-righteousness), yaitu keinginan untuk merasa benar di hadapan Allah berdasarkan usaha sendiri, bukan anugerah.

 

Perjumpaan Paulus dengan Kristus menjadi titik balik yang mendasar. Ia tidak hanya mengubah perilaku, tetapi mengalami pembaruan identitas secara total. Ketika Paulus berbicara tentang “mengenal Kristus,” yang ia maksud bukan sekadar mengetahui secara intelektual, melainkan hidup dalam relasi yang nyata dan mendalam dengan-Nya. Inilah inti iman: bukan sekadar mengetahui tentang Kristus, tetapi percaya dan bersandar sepenuhnya pada-Nya. Iman menuntun Paulus untuk menjadi berani melepaskan diri dari usaha membenarkan diri dan mulai hidup dari anugerah.


Dari sini lahirlah identitas baru. Identitas ini bukan hasil usaha manusia atau konstruksi religius, melainkan pemberian Allah. Manusia dibenarkan bukan karena perbuatannya, tetapi karena iman (justification by faith). Artinya, kebenaran bukan sesuatu yang dicapai, melainkan diterima. Dalam terang ini, Paulus tidak lagi melihat dirinya berdasarkan apa yang ia lakukan, tetapi berdasarkan apa yang Allah kerjakan di dalam Kristus.

 

Pada akhirnya, transformasi dapat terjadi dan mengalir ke seluruh kehidupan. Cara berpikir diperbarui, kehendak diarahkan ulang, dan tindakan pun berubah. Penting itu dipahami bahwa itu bukan lagi sebagai usaha untuk mendapatkan keselamatan, melainkan sebagai buah dari relasi dengan Kristus. Perbuatan baik bukanlah syarat untuk diterima Allah, tetapi hasil dari iman yang hidup. Dengan demikian, kehidupan etis tidak lagi menjadi beban, melainkan ungkapan syukur dari hati yang telah dibebaskan dan dipulihkan oleh kasih Allah.

 

Matius 21:33-46

 

Dalam Injil Matius 21:33–46, Tuhan Yesus menyampaikan perumpamaan tentang penggarap kebun anggur. Sekilas, kisah ini tampak seperti kegagalan menjalankan tugas. Namun jika dibaca lebih dalam, perumpamaan ini menyentuh sesuatu yang lebih mendasar: kegagalan manusia dalam mengelola kepercayaan dan kasih yang telah dipercayakan kepadanya.

 

Pemilik kebun dalam cerita itu telah menyediakan segalanya. Ia menanam kebun anggur, memasang pagar, menggali tempat pemerasan, bahkan membangun menara pengawas (ay.33). Semua ini menunjukkan bahwa kehidupan sudah dipersiapkan dengan baik: ada struktur, perlindungan, dan kemungkinan untuk berbuah. Dalam bahasa Yunani, kata “kebun anggur” (ampelōn) sering menjadi simbol umat yang dipelihara Allah. Artinya, manusia hidup bukan dalam kekosongan, tetapi dalam ruang yang sudah dipenuhi kasih dan pemeliharaan. Namun masalah muncul ketika tiba waktunya untuk memberikan hasil (ay.34). Para penggarap menolak para utusan yang datang. Kata “mengirim” di sini berasal dari Yunani apostellō, yang juga menjadi akar kata “rasul”, utusan yang membawa pesan, bukan kepentingannya sendiri. Penolakan terhadap utusan berarti penolakan terhadap relasi itu sendiri.

 

Relasi yang seharusnya komunikatif menjadi konspiratif. Relasi yang semestinya dibangun di atas kejujuran dan keterbukaan berubah menjadi perhitungan dan manipulasi. Para penggarap mulai bertindak seolah-olah kebun itu milik mereka. Mereka tidak lagi melihat diri sebagai penerima kepercayaan, tetapi sebagai pemilik mutlak. Di titik ini, relasi berubah menjadi penguasaan yang cenderung merusak.


Ketika utusan demi utusan disingkirkan (ay.34–39), konflik semakin memuncak. Setiap kehadiran yang membawa kebenaran dianggap ancaman. Bahkan ketika anak pemilik kebun datang, ia pun dibunuh. Maka ini bukan lagi sekadar kesalahan moral, tetapi keputusan sadar untuk menutup diri sepenuhnya terhadap kasih dan kebenaran. Mereka tidak ingin ada otoritas lain selain diri mereka sendiri. Di sinilah pemikiran Karl Barth menjadi sangat relevan. Barth melihat bahwa akar dosa manusia adalah keinginan untuk menempatkan diri sebagai pusat, menggantikan Allah. Ketika manusia ingin menjadi pusat, maka segala sesuatu yang datang dari Allah termasuk kebenaran dan kasih-Nya akan terasa mengancam. Akibatnya, manusia bukan hanya mengabaikan Allah, tetapi secara aktif menolak-Nya.


Apakah sang Pemilik kebun anggur menyerah? Ternyata tidak! Kisah ini tidak berakhir pada penolakan. Yesus mengutip mazmur, “Batu yang dibuang oleh tukang bangunan telah menjadi batu penjuru” (ay.42). Kata “penjuru” berasal dari Yunani kephalē gōnias, yang berarti batu utama yang menentukan arah seluruh bangunan. Ini menunjukkan bahwa apa yang ditolak manusia justru menjadi dasar baru yang ditetapkan Allah. Penolakan tidak membatalkan rencana Allah. Allah akan merebutnya kembali dari tangan si jahat itu.

 

Akhirnya, perumpamaan ini mengajak kita bercermin. Kebun itu tetap milik Sang Pemilik. Kebenaran tidak pernah benar-benar hilang, dan kasih tidak berhenti memanggil. Pertanyaannya bukan lagi tentang para penggarap dalam cerita, tetapi tentang bagaimana kita merespons kepercayaan yang telah diberikan. Apakah kita hidup dalam keterbukaan dan tanggung jawab, atau justru terjebak dalam keinginan untuk menguasai dan memiliki? Di sanalah arah hidup kita sebenarnya sedang ditentukan.

 

BERITA YANG MAU DISAMPAIKAN

 

1.     Keluarga sebagai ruang relasi yang dibangun di atas kebenaran dan kepercayaan.

 

2.     Sabda Allah sebagai daya pemulih dan penuntun kehidupan keluarga

 

3.     Pertumbuhan menuju kasih yang dewasa sebagai buah dari identitas dalam Kristus.

 

KHOTBAH JANGKEP

 

“Mengakarkan Sabda, Membuahkan kasih”

 

Saudara-saudari yang terkasih, kita hidup di tengah dunia yang terus berubah dengan cepat. Perubahan ini tidak hanya menyentuh teknologi atau gaya hidup, tetapi juga cara orang memandang iman. Generasi yang lahir hari ini tumbuh dalam dunia yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya. Namun di tengah perubahan itu, ada satu hal yang tetap kuat dan tidak tergantikan. Keluarga tetap menjadi tempat pertama di mana iman mulai dibentuk. Di dalam keluargalah seseorang pertama kali belajar tentang relasi kasih, kepercayaan, dan nilai hidup. Keluarga bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang pembentukan yang sangat mendasar dan krusial. Di sanalah arah hidup seseorang mulai dibentuk sejak awal. Maka berbicara tentang iman tidak pernah bisa dilepaskan dari kehidupan keluarga.

 

Penelitian dari Fuller Youth Institute menunjukkan bahwa orang tua memiliki pengaruh terbesar dalam membentuk iman anak. Angkanya bahkan mencapai lebih dari setengah dari seluruh faktor yang ada. Ini menunjukkan bahwa kehadiran orang tua bukan hanya penting, tetapi sangat menentukan. Hal yang sama juga ditegaskan oleh Bilangan Research Center di Indonesia. Meskipun dilakukan dalam konteks yang berbeda, hasilnya tetap sejalan. Artinya, lintas waktu dan budaya, keluarga tetap menjadi pusat pertumbuhan iman. Dunia boleh berubah, tetapi peran keluarga tidak tergantikan. Ini adalah fakta yang tidak bisa diabaikan.

 

Jika keluarga begitu penting, maka pertanyaan berikutnya adalah apa yang menghidupi keluarga itu sendiri? Apakah cukup dengan kasih sayang secara emosional saja? Apakah cukup dengan aturan dan disiplin semata? Atau apakah cukup dengan tradisi keagamaan yang dilakukan secara rutin? Jawabannya lebih dalam dari semua itu. Keluarga hanya akan bertumbuh dengan sehat jika Sabda Allah sungguh hidup di dalamnya. Sabda Allah bukan sekadar pelengkap, tetapi pusat yang memberi arah. Tanpa Sabda Allah, relasi mudah kehilangan makna dan kasih menjadi rapuh. Karena itu 3 hal ini menjadi penting untuk menjadi permenungan bersama:

 

1.  Sabda Allah sebagai Penuntun


Banyak orang mengenal Sabda, tetapi tidak membiarkannya membentuk hidup. Sabda hanya berhenti di kepala, tidak turun ke hati. Ia hanya menjadi pengetahuan, bukan pengalaman. Padahal Sabda baru menjadi hidup ketika meresap dalam cara berpikir dan bertindak. Ia membentuk cara kita berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain. Ia hadir dalam hal-hal sederhana sehari-hari. Di situlah Sabda menjadi nyata. Dan di situlah iman mulai bertumbuh dengan sungguh-sungguh.

 

Dalam Kitab Keluaran 20, kita melihat Sepuluh Hukum Tuhan. Banyak orang melihatnya sebagai aturan yang membatasi. Namun sebenarnya hukum ini adalah dasar hidup bersama. Hukum menolong manusia memahami bagaimana hidup dengan benar. Bukan untuk mengekang, tetapi untuk mengarahkan. Menjaga agar relasi tidak jatuh dalam kekacauan. Memberi batas yang sehat agar kehidupan tetap teratur. Dengan kata lain, hukum Tuhan adalah bentuk kasih yang menjaga kehidupan manusia. Ia bukan beban, tetapi penuntun, memberi arah yang jelas bagi hidup manusia.

 

Salah satu perintah yang sangat penting adalah menghormati orang tua. Kata “menghormati” berasal dari Ibrani (kabbed), yang berarti memberi bobot atau nilai. Artinya, menghormati bukan sekadar sopan santun. Menghormati berarti mengakui bahwa orang tua memiliki nilai yang tinggi dalam hidup kita. Ketika seseorang memberi “bobot” pada orang tuanya, ia juga sedang membangun martabat keluarganya. Relasi menjadi lebih dalam dan tidak dangkal. Ini bukan hanya tentang ketaatan, tetapi tentang penghargaan yang lahir dari hati. Dari situlah identitas seseorang mulai dibentuk. Ia belajar menghargai orang lain karena ia terlebih dahulu belajar menghormati di rumah.

 

Janji yang menyertai perintah ini juga sangat menarik. “Supaya lanjut umurmu” dalam bahasa Ibrani menunjuk pada kehidupan yang berkelanjutan. Ini bukan hanya soal umur panjang secara pribadi. Ini tentang kehidupan yang stabil dalam komunitas. Artinya, relasi yang sehat dalam keluarga akan berdampak luas. Ia tidak berhenti di dalam rumah, tetapi menjalar ke masyarakat. Sebaliknya, relasi yang rusak dalam keluarga akan membawa dampak yang lebih besar. Maka keluarga menjadi fondasi kehidupan sosial. Apa yang terjadi di dalamnya tidak pernah berhenti di situ saja. Selalu berdampak keluar.

 

Selain itu, larangan bersaksi dusta juga menyentuh hal yang sangat mendasar. Kebenaran adalah dasar dari setiap relasi. Tanpa kebenaran, komunikasi kehilangan makna. Kata-kata tidak lagi menjadi jembatan, tetapi alat manipulasi. Kebohongan merusak kepercayaan. Dan ketika kepercayaan hilang, relasi pun mulai runtuh. Bahkan dalam dunia sekarang yang penuh informasi, kebohongan bisa menyebar dengan cepat. Namun prinsipnya tetap sama: tanpa kebenaran, tidak ada relasi yang sehat. Karena itu, keluarga harus menjadi tempat di mana kebenaran dijaga. Di sanalah orang belajar berkata jujur. Dan di sanalah kepercayaan dibangun.

 

2.  Sabda Allah sebagai Pemulih Jiwa

 

Mazmur dalam Kitab Mazmur 19 mengajak kita melihat bagaimana Allah berbicara. Ia berbicara melalui alam dan melalui Sabda-Nya. Alam menyatakan kemuliaan Allah secara luas. Semua orang bisa melihatnya. Namun Sabda Allah memberi arah yang lebih jelas. Ia berbicara langsung kepada hati manusia. Ia tidak hanya menunjukkan siapa Allah, tetapi juga bagaimana manusia harus hidup. Di sinilah kita melihat bahwa Sabda memiliki peran yang sangat penting. Melengkapi apa yang alam nyatakan. Membawa manusia pada pengertian yang lebih dalam. Menuntun manusia dalam kehidupan yang benar.

 

Pemazmur menyebut Sabda Tuhan itu “sempurna,” dari kata (tamim). Kata ini berarti utuh, lengkap, tidak bercacat. Artinya, Sabda Allah tidak membingungkan. Ia jelas dan dapat dipercaya. Ia memberi arah yang pasti. Karena itu, Sabda tidak hanya untuk didengar, tetapi untuk direspons. Ia mengundang manusia untuk bertindak. Ia tidak membiarkan manusia tetap sama, menggerakkan hati dan membawa perubahan dalam hidup.


Sabda Tuhan juga dikatakan “menyegarkan jiwa.” Kata “menyegarkan” berasal dari (shuv), yang berarti kembali atau dipulihkan. Ini menunjukkan bahwa Sabda memiliki daya pemulihan. Ia mengembalikan manusia pada keadaan yang benar. Ia menyembuhkan hati yang terluka. Ia memperbaiki relasi yang rusak. Ia mengarahkan ulang hidup yang tersesat. Sabda tidak hanya memberi tahu apa yang benar, tetapi juga memberi kekuatan untuk hidup dalam kebenaran itu. Di sinilah Sabda menjadi hidup. Ia bekerja di dalam manusia.

 

Hal ini kita lihat dalam hidup Paulus dalam Surat kepada Jemaat di Filipi 3. Paulus pernah membangun identitasnya dari pencapaian religius. Ia memiliki semua yang dianggap penting. Namun ia menyadari bahwa semua itu tidak memberi makna sejati. Perjumpaannya dengan Kristus membuatnya berubah. Ia tidak lagi bergantung pada dirinya sendiri. Ia mulai hidup dari anugerah.

 

Martin Luther menjelaskan bahwa manusia sering jatuh dalam “kebenaran diri.” Manusia ingin merasa benar karena usahanya sendiri. Namun Paulus menunjukkan jalan yang berbeda. Ia menerima kebenaran sebagai anugerah. Ia tidak lagi mengejar pengakuan. Ia hidup dalam relasi dengan Kristus. Dari sinilah identitas baru lahir. Dari identitas itu, hidup yang baru mulai tumbuh.

 

3.  Sabda Allah sebagai Penjaga Etika

 

Di tengah semangat perubahan hidup, Injil Matius 21 juga mengingatkan kita akan bahaya besar. Manusia bisa gagal mengelola kepercayaan. Penggarap kebun menerima semuanya, tetapi bertindak seolah itu milik mereka. Mereka menolak utusan. Mereka bahkan membunuh anak pemilik. Ini sangat berbahaya. Seperti dikatakan Karl Barth, ketika manusia ingin menggantikan Allah. Dan dari situlah kerusakan demi kerusakan terjadi.

 

Namun Allah tidak berhenti. Batu yang dibuang menjadi batu penjuru. Artinya, rencana Allah tidak gagal. Kasih-Nya tetap bekerja. Ia tetap memanggil manusia kembali. Ia membuka jalan baru. Ia memberi kesempatan untuk berubah. Dan Ia mengundang kita untuk kembali kepada-Nya.

 

Saudara-saudari, hari ini kita diajak untuk kembali pada dasar. Keluarga adalah ruang relasi yang harus dibangun di atas kebenaran dan kepercayaan. Sabda Allah adalah daya pemulih yang menuntun hidup kita. Identitas dalam Kristus adalah sumber kasih yang sejati. Ketika Sabda diakarkan, hidup akan berbuah. Dan buah itu adalah kasih.

 

Pada bagian liturgi tadi kita mendengarkan puisi dari Chairil Anwar berjudul “ibu”. Tanpa kita mencoba keras mencari maknanya, makna itu sudah keluar dengan sendirinya. Bahasa kasih seorang ibu selalu punya daya besar untuk mengubah kehidupan seorang anak. Maka seperti itulah bahasa cinta Sabda Allah, selalu punya daya mengubah dunia. Tuhan memberkati. Amin.

 

[YRS]

Khotbah Terkait

← Back to Sermons