Khotbah jangkep minggu Trinintas

Paskah

Khotbah jangkep minggu Trinintas

Pdt. Stefanus Yossy · June 4, 2026

Minggu Trinitas

DASAR PEMIKIRAN 0 Dari waktu ke waktu, Trinitas menjadi salah satu pokok yang paling sulit untuk dijelaskan secara gamblang. Banyak teolog telah merumuskan pemahamannya dan para pendeta berusaha keras menerangkannya kepada umat. Namun tak bisa dipungkiri, tidak mudah merumuskannya dengan gamblang. Mengapa? Karena Trinitas berbicara tentang hakikat dari Yang Ilahi, yang tentu saja tidak terjangkau oleh akal budi manusia. Trinitas bukanlah konsep yang dibuat oleh manusia, Allah sendiri menyatakan diri-Nya sebagai kesatuan Bapa, Anak dan Roh Kudus. Mau – tidak mau, suka - tidak suka, pengajaran tentang Trinitas tidak bisa dihilangkan atau disembunyikan. Trinitas harus diwartakan baik dulu, sekarang dan selama-lamanya. TAFSIR LEKSIONARIS Kejadian 1:1-2:4a Bagian ini merupakan pendahuluan dari seluruh isi Kitab Suci yang menyatakan tentang siapa Allah dan apa hubungannya dengan dunia dan kehidupan di dalamnya. Kisah penciptaan memperkenalkan Allah sebagai Pencipta; yang ada sebelum semuanya ada, yang mencipta bersama Anak (Sang Sabda) dan Roh Kudus. Jadi, sejak semula kita diperkenalkan mengenai Allah, Roh Allah dan Firman Allah (yang menjadi daging) sebagai kesatuan yang tidak terpisahkan. Dengan kuasa sabda-Nya Allah menciptakan langit, bumi dan segala isinya. Karya penciptaan itu berlangsung selama enam hari dan pada hari ketujuh Allah berhenti dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya. Alasan mengapa Allah memberkati dan menguduskan hari ketujuh ialah “karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu” (Kejadian 2:3). Jadi, Allah berhenti pada hari ketujuh bukan karena Ia lelah, melainkan karena pekerjaan-Nya telah selesai. Selanjutnya, menarik untuk diperhatikan bahwa kata שָׁבַת (berhenti) juga berarti istirahat. Maka, hari ketujuh itu bukanlah akhir dari segalanya, melainkan hanya jeda yang menandai berakhirnya satu babak sekaligus dimulainya babak baru. Dengan diselesaikannya karya penciptaan bukan berarti Allah tidak lagi bekerja, melainkan Ia memulai karya selanjutnya, yaitu memelihara ciptaan dengan cinta kasih-Nya. Mazmur 8 Mazmur ini berisi refleksi Pemazmur atas keberadaan dirinya sebagai manusia. Pemazmur menyadari bahwa manusia hanyalah satu bagian kecil dari alam semesta yang luas dan megah (ayat 4 5). Pemazmur mengakui betapa sesungguhnya manusia tidak layak di hadapan Allah, “apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (ayat 5) Namun disisi lain, ia juga mensyukuri bahwa manusia diciptakan begitu mulia. Kemuliaan itu bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan adalah rahmat atau karunia dari Sang Pencipta (ayat 6 7). Itulah sebabnya, bagi Pemazmur kedudukan mulia bukan alasan untuk memegahkan diri, melainkan untuk memuji dan memuliakan Allah (ayat 2 dan 10). 2 Korintus 13:11-13 Paulus dan Timotius menulis surat ini dalam kondisi yang jauh dari ideal: Kesehatan tubuh menurun drastis, “manusia lahiriah kami semakin merosot” (4:16) dan beban psikologis begitu berat, “beban yang ditanggungkan atas kami begitu besar dan begitu berat” (1:8). Paulus dan Timotius menghadapi tantangan yang begitu besar dalam pelayanan, “Di mana-mana kami mengalami TAFSIR LEKSIONARIS Kejadian 1:1-2:4a Bagian ini merupakan pendahuluan dari seluruh isi Kitab Suci yang menyatakan tentang siapa Allah dan apa hubungannya dengan dunia dan kehidupan di dalamnya. Kisah penciptaan memperkenalkan Allah sebagai Pencipta; yang ada sebelum semuanya ada, yang mencipta bersama Anak (Sang Sabda) dan Roh Kudus. Jadi, sejak semula kita diperkenalkan mengenai Allah, Roh Allah dan Firman Allah (yang menjadi daging) sebagai kesatuan yang tidak terpisahkan. Dengan kuasa sabda-Nya Allah menciptakan langit, bumi dan segala isinya. Karya penciptaan itu berlangsung selama enam hari dan pada hari ketujuh Allah berhenti dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya. Alasan mengapa Allah memberkati dan menguduskan hari ketujuh ialah “karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu” (Kejadian 2:3). Jadi, Allah berhenti pada hari ketujuh bukan karena Ia lelah, melainkan karena pekerjaan-Nya telah selesai. Selanjutnya, menarik untuk diperhatikan bahwa kata שָׁבַת (berhenti) juga berarti istirahat. Maka, hari ketujuh itu bukanlah akhir dari segalanya, melainkan hanya jeda yang menandai berakhirnya satu babak sekaligus dimulainya babak baru. Dengan diselesaikannya karya penciptaan bukan berarti Allah tidak lagi bekerja, melainkan Ia memulai karya selanjutnya, yaitu memelihara ciptaan dengan cinta kasih-Nya. Mazmur 8 Mazmur ini berisi refleksi Pemazmur atas keberadaan dirinya sebagai manusia. Pemazmur menyadari bahwa manusia hanyalah satu bagian kecil dari alam semesta yang luas dan megah (ayat 4 5). Pemazmur mengakui betapa sesungguhnya manusia tidak layak di hadapan Allah, “apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (ayat 5) Namun disisi lain, ia juga mensyukuri bahwa manusia diciptakan begitu mulia. Kemuliaan itu bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan adalah rahmat atau karunia dari Sang Pencipta (ayat 6 7). Itulah sebabnya, bagi Pemazmur kedudukan mulia bukan alasan untuk memegahkan diri, melainkan untuk memuji dan memuliakan Allah (ayat 2 dan 10). 2 Korintus 13:11-13 Paulus dan Timotius menulis surat ini dalam kondisi yang jauh dari ideal: Kesehatan tubuh menurun drastis, “manusia lahiriah kami semakin merosot” (4:16) dan beban psikologis begitu berat, “beban yang ditanggungkan atas kami begitu besar dan begitu berat” (1:8). Paulus dan Timotius menghadapi tantangan yang begitu besar dalam pelayanan, “Di mana-mana kami mengalami kesusahan: Pertengkaran dari luar dan ketakutan dari dalam” (7:5). Kendati demikian, mereka memilih untuk tidak tawar hati (4:16) dan tetap tabah (5:6). Dalam semuanya itu, Paulus dan Timotius terus berupaya memelihara iman dan hidup jemaat Korintus. Bagian penutup surat ini berisi pesan: Pertama, “Bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna.” Dari Titus, Paulus dan Timotius mendengar adanya perkembangan sikap Jemaat Korintus, “ia telah memberitahukan kepada kami tentang kerinduanmu, keluhanmu, semangatmu demi aku, sehingga makin bertambahlah sukacitaku” (7:7). Teguran keras Paulus dalam suratnya yang pertama telah membawa perubahan baik di tengah jemaat, “karena kesedihanmu membuat kamu bertobat” (7:9). Karena itu, Paulus menyemangati Jemaat Korintus untuk bersukacita dan berusaha hidup lebih baik lagi (terus berproses menuju kesempurnaan). Pesan berikutnya ialah, “Terimalah nasihatku! sehati sepikirlah kamu, hiduplah dalam damai sejahtera” Bagi Paulus, cinta kasih dan ketulusan Jemaat perlu diwujudkan melalui ketaatan dalam menerima setiap nasihatnya. Paulus rindu, Jemaat Korintus hidup dalam kesatuan dan damai sejahtera. Harapan besar ini bisa dimulai dengan hal-hal sederhana, “Bersalam-salamanlah seorang kepada yang lain dengan ciuman kudus”. Ciuman sebagai ungkapan salam, ungkapan kasih sayang antar kerabat maupun ungkapan hormat, dapat ditemukan dalam Perjanjian Lama (Kejadian 27:27; 29:11; 29:13; 31:55; 45:15; 50:1; Keluaran 18:7; Rut 1:14; 2 Samuel 14:33; 20:9; 1 Raja-raja 19:20; Amsal 27:6). Tampaknya tradisi ini terus dipelihara hingga jaman Perjanjian Baru. Tuhan Yesus pernah menegur seorang Farisi bernama Simon terkait dengan apa yang dilakukan seorang perempuan berdosa yang datang untuk mengurapi Nya, “Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku” (Lukas 7:45). Bahkan Yudas telah memanipulasi tradisi ciuman itu menjadi penanda bagi orang-orang yang akan menangkap Yesus (Matius 26:49; Markus 14:45; Lukas 22:47). Dan di masa pertumbuhan gereja, tradisi ini terus berlangsung, “Maka menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia” (Kisah Para Rasul 20:37). Akhirnya Paulus menutup suratnya dengan rumusan berkat, “Anugerah Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian” (ayat 13). Pernyataan ini secara terang-terangan menunjukkan keberadaan Tuhan Yesus Kristus (Anak), Allah (Bapa) dan Roh Kudus dalam kesatuan yang tidak terpisahkan. Matius 28:16-20 Bagian ini merekam perjumpaan terakhir para murid dengan Tuhan Yesus menjelang kenaikan-Nya ke surga. Mari kita perhatikan beberapa catatan penting dari Matius. Ayat 17 menyebutkan, “Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu”. Mereka di sini menunjuk pada sebelas murid (lihat ayat 16). Belum pernah diberitakan sebelumnya bahwa para murid menyembah Yesus. Sikap menyembah ini bisa dimaknai sebagai pengakuan para murid akan keilahian Yesus Kristus. Pada akhirnya para murid menyadari siapa Yesus sebenarnya, Ia bukan hanya guru spiritual atau sebatas nabi, Ia adalah Tuhan yang layak untuk disembah. Menanggapi keraguan beberapa orang saat itu, Yesus mendekati mereka, dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi” (ayat 18). Pernyataan ini menegaskan kedudukan-Nya sebagai Penguasa langit (surga) dan bumi. Ia mengutus para murid, “pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (ayat 19-20). Tuhan Yesus menghendaki agar semua bangsa menjadi murid-Nya, dengan jalan: 1) Membaptiskan mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Hal ini menekankan bahwa Yesus tidaklah berdiri sendiri sebagai pihak di luar Bapa dan Roh Kudus. Yesus menunjukkan kesatuan yang tak terpisahkan antara diri-Nya dengan Bapa dan Roh Kudus. Percaya kepada Yesus berarti percaya kepada Bapa yang menyatakan diri dalam Roh (Roh Kudus) dan Firman-Nya (Yesus). 2) Mengajarkan kepada mereka untuk melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan Tuhan Yesus. Untuk melakukan tugas panggilan ini, Tuhan Yesus memberikan jaminan bahwa Ia akan menyertai para murid sampai akhir zaman. BERITA YANG AKAN DISAMPAIKAN Ajaran Trinitas bukan sekedar konsep manusia dan dogma yang diajarkan gereja. Trinitas adalah kebenaran yang dinyatakan dalam Kitab Suci. Karena itu penting bagi setiap orang percaya untuk memahami makna Trinitas, karya-Nya yang tak terbatas dan panggilan-Nya atas manusia. KHOTBAH JANGKEP Jemaat yang dikasihi Tuhan, “Trinitas Tak Terbatas” Dari waktu ke waktu, Trinitas menjadi salah satu pokok iman yang paling sulit untuk dijelaskan secara gamblang. Banyak teolog telah merumuskan pemahamannya dan para pendeta berusaha keras menerangkannya kepada umat. Namun tak bisa dipungkiri, tidak mudah merumuskannya dengan gamblang. Mengapa? Karena Trinitas berbicara tentang hakikat dari Yang Ilahi, yang tentu saja tidak terjangkau oleh akal budi manusia. Trinitas bukanlah konsep yang dibuat oleh manusia, Allah sendiri menyatakan diri-Nya sebagai kesatuan Bapa, Anak dan Roh Kudus. Saat ini kita akan bersama-sama menelusuri makna Trinitas yang tersirat dan tersurat dalam Kitab Suci. Penelusuran ini sebaiknya kita mulai dari perenungan tentang siapakah diri kita. Mazmur 8 dapat menolong kita untuk mengenal dan memahami keberadaan diri kita sebagai manusia. Pertama tama, kita adalah ciptaan Allah yang ditempatkan di antara ciptaan-ciptaan lainnya (alam semesta). Sebagai ciptaan, pada dasarnya kita tidak memiliki kuasa sedikit pun, jangankan terhadap ciptaan lain, atas diri sendiri pun kita tidak berkuasa. Yang ada ialah bahwa hidup kita dalam kuasa dan kendali Sang Pencipta. Namun, Allah mengaruniakan kedudukan yang mulia, Ia memberi kita kuasa atas ciptaan ciptaan lain, “Engkau membuat Dia berkuasa atas buatan tangan-Mu, segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya” (Mazmur 8:7). Allah mempercayakan peran penting kepada kita untuk menjadi mandataris-Nya. Melibatkan manusia sebagai mandataris-Nya tidak serta merta membuat Allah berpangku tangan atas kehidupan di dunia. Pengudusan hari ketujuh sebagai hari Sabat (berhenti, beristirahat) bukanlah akhir dari karya Allah (Kejadian 2:3). Allah yang telah menciptakan alam semesta terus melanjutkan karya-Nya. Sabat hanyalah istirahat, jeda, penanda diselesaikannya suatu pekerjaan dan dimulainya pekerjaan baru. Karena itu Tuhan Yesus pernah berkata, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, dan Aku pun bekerja” (Yohanes 6:17). Sejak awal pemberitaan Kitab Suci, Allah menunjukkan sifat dinamis dalam diri-Nya, “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” dan “Berfirmanlah Allah ...”. Ia bukanlah Alah yang diam. Roh dan Firman menjadi penanda kehadiran dan karya Allah. Karena itu, Allah tidak bisa dilepaskan dari Roh dan Firman, begitu pun sebaliknya, Roh dan Firman tidak pernah berdiri sendiri di luar Allah. Dengan begitu mari kita catat, bahwa Allah (yang disebut Bapa oleh Yesus), Firman (Yesus) dan Roh (Roh Kudus) adalah satu kesatuan utuh, merupakan hakikat dari Allah itu sendiri. Karena itu Tuhan Yesus memerintahkan para murid untuk menjadikan semua bangsa murid Nya dan membaptis mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Matius 28:19). Membaptis seseorang dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus berarti menenggelamkannya dalam rahmat Ilahi yang utuh. Dari sinilah kehidupan baru dimulai. Karena itu misi menjadikan semua bangsa murid Tuhan, tidak berakhir dengan peristiwa baptisan. Maka Tuhan Yesus melanjutkan amanatnya kepada para murid, “dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (ayat 20) dan Ia berjanji, “Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”. Sekali lagi kita mendapati penegasan, meskipun mandat telah diberikan kepada para murid, bukan berarti Allah berpangku tangan, melainkan Ia pun bekerja dengan cara “menyertai” para murid. Allah Tritunggal: Bapa, Anak dan Roh Kudus memanggil kita untuk aktif bekerja dalam penyertaan-Nya. Keempat bacaan hari ini mengingatkan kita akan tugas panggilan itu: “Beranak-cuculah dan bertambah banyaklah, penuhilah dan taklukkanlah bumi. Berkuasalah atas ikan-ikan di laut, burung burung di udara dan atas segala binatang melata di bumi” (Kejadian 1:28) dan “Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu, segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya” (Mazmur 8:7). Tapi, apakah panggilan ini masih relevan di tengah dunia yang sudah penuh sesak oleh manusia? Apakah tugas ini masih cocok dipercayakan kepada manusia-manusia rakus yang sering kali menyalahgunakan kekuasaannya? Perintah beranak cucu dan bertambah banyak dapat dimengerti sebagai panggilan untuk menjaga kelangsungan hidup dari generasi ke generasi, bukan melulu soal pertambahan jumlah. Menjaga kelangsungan dan kelestarian hidup berarti memelihara kehidupan dengan sebaik mungkin. Hal ini tentu masih relevan di masa kini. Selanjutnya, kenyataan bahwa manusia telah menyalahgunakan kuasanya atas alam tidak membatalkan panggilan Allah. Justru di tengah krisis itu, panggilan Allah bergema, menegur dan mengingatkan kita untuk membenahi diri. Sebagai orang-orang yang telah mengenal Allah Tritunggal dan kasih karunia-Nya, sudah sepantasnya jemaat Kristen menjadi pelopor dan teladan untuk mewujudkan kehidupan yang penuh damai sejahtera sebagaimana dikehendaki Allah. Untuk itu, kita perlu memulai dari diri sendiri, kita mulai dari persekutuan kita, “Bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera” (2 Korintus 13:11). Kita diajak untuk terus berusaha hidup lebih baik dari hari ke hari. Tidak berpuas diri dan berhenti di atas alasan tidak ada manusia yang sempurna. Sebaliknya, terus berproses menuju kesempurnaan. Tidak perlu kuatir karena, “Dia turut bekerja dalam segala sesuatu demi kebaikan orang-orang yang mengasihi Allah, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana-Nya” (Roma 8:28). Biarlah proses itu kita jalani dengan sukacita dan bersama-sama. Last but not least, amanat agung Tuhan Yesus masih berlaku sampai sekarang, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Matius 28:19-20). Kadang kita mencoba menghindarkan diri dari tugas ini dengan alasan kebijakan politik dan kepentingan golongan tertentu membatasi gerak dan menutup peluang kita. Tapi sesungguhnya, tidak ada yang dapat membatasi dan menutup gerak Allah yang terus bekerja dengan Roh dan Firman-Nya, yang menyertai kita senantiasa sampai akhir zaman. Amin  

Khotbah Terkait

← Back to Sermons